Menhub Tutup Rute MRT Lebak Bulus-Serpong: Antisipasi Calo Tanah
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah merahasiakan rute pasti perpanjangan MRT Jakarta hingga Serpong untuk mencegah spekulasi harga tanah oleh calo.
- Studi kelayakan proyek yang digarap swasta (Sinarmas) ditargetkan rampung akhir 2026, namun konstruksi masih butuh tahapan lanjutan.
- Kebijakan ini berpotensi memengaruhi harga properti di Tangerang Selatan dan menguji transparansi investasi infrastruktur publik.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pemerintah tidak akan membuka rute persis proyek perpanjangan MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan, hingga proses pembebasan lahan selesai. Langkah ini diambil untuk menghindari aksi spekulasi yang dilakukan calo tanah yang bisa menggandakan biaya akuisisi lahan.
Proyek yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan penyangga di selatan itu saat ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study) yang dikerjakan oleh pihak swasta, yakni Sinarmas, pengembang kawasan BSD City. Studi tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026. Namun, Dudy menegaskan bahwa rute pasti tidak akan dipublikasikan sebelum eksekusi proyek dimulai.
“Biasanya kita tidak akan buka rutenya. Kenapa? Nanti calo tanahnya. Mereka akan beredar di mana-mana. Kalau ini bocor ke luar, itu akan mempengaruhi biaya perolehan tanahnya,” ujar Dudy dalam pernyataannya, Sabtu (28/6/2026). Menurutnya, jika informasi rute bocor lebih awal, harga tanah yang semula Rp1 juta per meter persegi bisa melonjak menjadi Rp30 juta, merugikan masyarakat dan hanya menguntungkan makelar.
Keputusan untuk merahasiakan rute ini memicu spekulasi di media sosial. Sebagian warganet menduga jalur akan melewati Pondok Aren, sementara yang lain menyebut Pondok Cabe. Dudy menegaskan bahwa penentuan rute sepenuhnya diserahkan kepada investor, dalam hal ini Sinarmas, yang akan mempertimbangkan potensi jumlah penumpang dan efisiensi investasi. “Mereka akan lihat dari sudut ekonomisnya mana yang menguntungkan. Mau lewat Pondok Cabe, demand-nya masih banyak atau lewat Pondok Aren, kita belum tahu,” jelasnya.
Dari sisi pemerintah, yang terpenting adalah perluasan layanan transportasi massal dan peningkatan konektivitas antara Jakarta dan kawasan penyangga. “Tapi kalau Sinarmas lewatnya BSD, tujuan akhirnya BSD. Terserah mereka mau lewat mana. Yang penting jangkauannya semakin jauh dan konektivitasnya lebih baik,” tambah Dudy.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat menjelaskan bahwa selesainya studi kelayakan bukan berarti pembangunan konstruksi bisa langsung dimulai tahun depan. Masih ada serangkaian tahapan yang harus dilalui, termasuk pembahasan kelembagaan, skema finansial, dan penyusunan desain teknis yang mendetail. Proyek ini menjadi sorotan karena melibatkan investasi besar dan berdampak langsung pada harga properti di Tangerang Selatan.
Bagi pembaca di Indonesia, terutama investor properti dan masyarakat Jabodetabek, langkah pemerintah ini menimbulkan pertanyaan: akankah kerahasiaan rute benar-benar efektif mencegah spekulasi, atau justru memicu ketidakpastian yang merugikan semua pihak? Yang jelas, proyek ini akan menjadi ujian bagi transparansi dan tata kelola investasi infrastruktur publik di Indonesia.



