Davies Fit Bela Kanada Lawan Afrika Selatan, Marsch: Dia Ferrari Kami
Baca dalam 60 detik
- Alphonso Davies pulih dari cedera hamstring dan siap tampil penuh saat Kanada menghadapi Afrika Selatan di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Pelatih Jesse Marsch mengakui sempat merahasiakan kondisi Davies demi mengecoh lawan, kini menyebutnya sebagai 'Ferrari' yang harus dilindungi.
- Laga ini menjadi ujian pertama Kanada di Amerika Serikat setelah tampil di kandang sendiri, sekaligus peluang membalas kekalahan mengejutkan Afrika Selatan atas Korea Selatan.

Kapten tim nasional Kanada, Alphonso Davies, dipastikan fit untuk berlaga melawan Afrika Selatan pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Minggu (28/6) waktu setempat. Pelatih Jesse Marsch menyebut kehadiran pemain Bayern Munich itu sebagai suntikan moral besar bagi skuadnya yang tengah berjuang melaju ke fase berikutnya.
Davies mengalami cedera hamstring kiri saat memperkuat Bayern Munich melawan Paris Saint-Germain di leg kedua semifinal Liga Champions bulan lalu. Ia absen di tiga pertandingan fase grup Kanada dan hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya dari bangku cadangan. "Sungguh menyakitkan melihat mereka bertanding tanpa bisa membantu," ujar Davies dalam sesi wawancara jelang laga.
Marsch mengakui bahwa ia sengaja merahasiakan kondisi Davies sebelum pertandingan melawan Swiss. Saat itu ia mengklaim Davies sudah pulih, namun setelah laga ia mengaku berbohong demi mengecoh lawan. "Kami harus memperlakukan pemain seperti ini seperti Ferrari. Tidak boleh dipaksakan sebelum benar-benar siap," kata Marsch.
Selain Davies, Marsch juga mengonfirmasi bek Moise Bombito dalam kondisi prima. Bombito, yang patah kaki saat membela Nice pada Oktober 2025, tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua saat Kanada menghancurkan Qatar 6-0. Keduanya diharapkan menjadi pilar pertahanan Kanada menghadapi Afrika Selatan yang tampil perkasa setelah mengalahkan Korea Selatan.
Laga nanti menjadi ujian berat bagi Kanada. Sebagai salah satu tuan rumah, ekspektasi publik tinggi, namun performa tim masih naik-turun. Meksiko dan Amerika Serikat, dua tuan rumah lainnya, menunjukkan hasil lebih konsisten. Namun, Davies optimistis. "Melihat stadion penuh dengan jersey merah-putih sungguh luar biasa. Saya tidak pernah membayangkan akan ada begitu banyak pendukung Kanada di pertandingan sepak bola," katanya.
Bagi Indonesia, perjalanan Kanada di Piala Dunia 2026 menjadi cerminan bagaimana negara dengan tradisi sepak bola yang belum mapan mampu bersaing di panggung global. Dukungan pemerintah, seperti kehadiran Perdana Menteri Mark Carney di pertandingan, serta manajemen cedera yang hati-hati, menjadi pelajaran berharga. Marsch menegaskan timnya akan tampil agresif sejak menit awal. "Kami tidak boleh memberi mereka ruang. Afrika Selatan sudah membuktikan bisa mengalahkan tim besar," tutupnya.
Pertanyaan besarnya: mampukah Kanada memanfaatkan momentum ini untuk melaju lebih jauh, atau justru kembali gagal di babak gugur seperti dua edisi sebelumnya? Jawabannya akan terlihat di lapangan Minggu nanti.



