Ancaman Serangan Sekolah di Filipina: Siswi 14 Tahun Ditangkap, Terpengaruh Game GoreBox
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswi kelas 10 di Tolosa National High School ditangkap karena mengancam akan menyerang sekolahnya melalui Facebook, terinspirasi dari penembakan di San Jose National High School.
- Polisi menemukan siswi tersebut adalah penggemar game GoreBox, yang telah dilarang sementara di Filipina setelah insiden penembakan sebelumnya oleh dua pemain game serupa.
- Ancaman dinilai tidak terorganisir dan tidak ada bukti kepemilikan senjata api, namun kasus ini memicu kekhawatiran tentang pengaruh konten kekerasan pada remaja di Asia Tenggara.

Seorang siswi berusia 14 tahun di Filipina diamankan aparat kepolisian setelah diduga menyebarkan ancaman serangan terhadap sekolahnya di media sosial, hanya beberapa hari setelah peristiwa penembakan mematikan di Tacloban City. Menteri Dalam Negeri Filipina, Jonvic Remulla, mengungkapkan bahwa ancaman tersebut muncul dalam unggahan Facebook yang menargetkan Tolosa National High School di Provinsi Leyte.
Dalam konferensi pers di Camp Crame, Remulla menjelaskan bahwa siswi kelas 10 tersebut ditangkap oleh unit investigasi kriminal PNP setelah menerima laporan dari Senator Bam Aquino. Unggahan yang dibuat pada Rabu malam itu berisi pesan intimidatif, antara lain: โBersiaplah, aku akan mengacaukan sekolah. Tidak ada waktu atau hari tertentu. Bersiaplah untuk siapa pun yang tertembak atau tertusuk.โ
Meski ancaman tersebut cukup serius, pihak kepolisian akhirnya melepaskan siswi itu setelah diserahkan ke Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan. Menurut Remulla, pelaku tidak dapat dituntut berdasarkan Undang-Undang Keadilan dan Kesejahteraan Remaja (RA 9344) karena usianya yang masih di bawah umur. Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa siswi tersebut membuat beberapa akun Facebook palsu untuk menyebarkan ancaman, namun akun-akun itu telah dihapus begitu polisi berhasil melacaknya.
Remulla menambahkan bahwa siswi tersebut diduga termotivasi oleh masalah pribadi dan keluarga, serta terpengaruh oleh penembakan di San Jose National High School yang terjadi pada Senin sebelumnya. Dalam insiden itu, dua siswa berusia 14 dan 15 tahun menembaki teman-teman mereka, menewaskan tiga orang dan melukai sedikitnya 20 lainnya. Kedua pelaku penembakan tersebut diketahui juga merupakan penggemar berat game kekerasan GoreBox.
Fenomena ini memicu perdebatan di Filipina tentang pengaruh konten kekerasan dalam game terhadap perilaku remaja. Pemerintah Filipina melalui Pusat Koordinasi dan Investigasi Siber telah melarang sementara game GoreBox setelah insiden penembakan di Tacloban. Langkah serupa pernah dipertimbangkan di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana kekhawatiran tentang dampak game kekerasan pada anak-anak kerap mencuat.
Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, meskipun tidak separah di Filipina. Pengamat psikologi anak, Dr. Retno Wulandari, menilai bahwa pengawasan orang tua dan regulasi konten game menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa. โRemaja sangat rentan terhadap pengaruh eksternal, terutama jika mereka memiliki masalah emosional atau kurangnya perhatian dari keluarga. Game dengan konten kekerasan bisa menjadi pemicu, bukan penyebab utama,โ ujarnya.
Polisi Filipina memastikan bahwa ancaman di Tolosa sudah tidak aktif dan tidak ada bahaya lanjutan. Namun, kasus ini menyoroti kerentanan sistem hukum dalam menangani pelaku kejahatan di bawah umur. Dengan meningkatnya akses remaja ke media sosial dan game online, pertanyaan tentang keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan anak menjadi semakin mendesak. Akankah negara-negara di kawasan ini mengambil langkah lebih tegas untuk mengatur konten digital yang berpotensi membahayakan?



