Remaja 15 Tahun Siap Debut Timnas India, Lebih Muda dari Sachin Tendulkar
Baca dalam 60 detik
- Vaibhav Sooryavanshi, pemukul kiri berusia 15 tahun, akan menjadi debutan termuda India di T20 Internasional melawan Irlandia, menggeser rekor Sachin Tendulkar.
- Musim IPL 2025 miliknya mencengangkan: 776 run dengan strike-rate 237,30 untuk Rajasthan Royals, plus rekor half-century tercepat di List A (11 bola).
- Tiga legenda kriket—Dravid, Vaughan, Langer—memuji bakat alaminya, namun mengingatkan perlunya perlindungan agar potensi besarnya tidak sia-sia.

Vaibhav Sooryavanshi, remaja pembuka asal India, dipastikan akan menjalani debut internasional pada Jumat (15/8) dalam laga T20 pertama melawan Irlandia di Belfast. Dengan usia 15 tahun 91 hari, ia memecahkan rekor Sachin Tendulkar sebagai pemain termuda yang memperkuat India di level internasional—Tendulkar saat itu berusia 16 tahun 205 hari saat melawan Pakistan pada 1989.
Keputusan ini tak bisa dilepaskan dari performa gilanya di Indian Premier League (IPL) 2025. Berseragam Rajasthan Royals, Sooryavanshi mengoleksi 776 run dari 16 babak dengan strike-rate 237,30—tertinggi di antara semua pemukul yang mencetak lebih dari 500 run T20 sejak awal 2025. Ia juga baru saja memecahkan rekor half-century tercepat dalam sejarah kriket List A (50 over) saat membela India A melawan Sri Lanka A, hanya membutuhkan 11 bola.
Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya angka. Tiga legenda kriket—Rahul Dravid, Michael Vaughan, dan Justin Langer—memberikan pandangan mereka kepada BBC Sport. Justin Langer, pelatih Lucknow Super Giants, mengaku meminta swafoto dengan Sooryavanshi, sesuatu yang baru kedua kalinya ia lakukan. "Saya takjub pada bakat, pola pikir, dan cara bermainnya. Tangannya luar biasa—seperti selang air di kolam renang, sangat lentur," ujar Langer. Ia menyoroti pukulan six pertama Sooryavanshi di IPL yang melambung melewati cover, bukan ke leg side seperti kebanyakan kidal.
Rahul Dravid, yang memberinya debut IPL saat masih menjadi pelatih Rajasthan Royals, menekankan kombinasi langka antara kemampuan membaca kecepatan bowler, kecerdasan kriket, dan keberanian. "Tidak ada resep untuk membuat Sooryavanshi. Ia berbakat, tapi juga bekerja keras sejak kecil. Saya hanya berharap ia didukung dan dilindungi dengan baik—ada garis tipis antara melindungi dan membiarkannya terbang," kata Dravid.
Michael Vaughan, komentator IPL, mengaku sempat menjadi penggemar saat bertemu Sooryavanshi di Mumbai. "Saya tanya bagaimana persiapannya? Jawabnya: menonton kartun. Makan apa? Semua!" kenang Vaughan. Ia memuji kesadaran sang remaja terhadap isyarat bowler sebelum bola dilepaskan. "Kesalahan panjang satu inci saja, bola akan dipukul keluar lapangan. Bayangkan dia bermain Test untuk India nanti," tambah Vaughan.
Bagi Indonesia, fenomena Sooryavanshi menjadi pengingat bahwa kriket—meski belum populer di Tanah Air—terus melahirkan bakat-bakat luar biasa dari usia belia. Dengan turnamen ICC Cricket World Cup 2027 yang akan digelar di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia, potensi pemain muda seperti Sooryavanshi bisa mengubah peta persaingan Asia. Pertanyaannya: akankah India mampu mengelola bakat mentah ini tanpa mengorbankan masa depannya?



