Euforia Piala Dunia Norwegia: Selebrasi 'Viking Row' Bikin Tetangga Sebal
Baca dalam 60 detik
- Kapten Martin Odegaard memimpin selebrasi 'Viking Row' setelah kemenangan Norwegia atas Senegal, memicu reaksi beragam dari Swedia dan Denmark.
- Swedia menganggap selebrasi itu usang dan terlalu mirip dengan 'thunderclap' Islandia, sementara Denmark yang gagal lolos ke Piala Dunia merasa iri dan tersinggung.
- Ketegangan ini menunjukkan rivalitas sepak bola Skandinavia yang kian memanas, dengan Norwegia kini menjadi kekuatan baru di kawasan.

Euforia Norwegia di Piala Dunia 2026 tidak hanya menyulut kegembiraan di dalam negeri, tetapi juga memicu kejengkelan di negara tetangga. Selebrasi khas 'Viking Row' yang diperagakan skuad Garuda Skandinavia—julukan timnas Norwegia—kini menjadi sumber ketegangan dengan Swedia dan Denmark, dua rival tradisional di kawasan.
Selebrasi yang dilakukan dengan gerakan mendayung kompak itu pertama kali viral setelah kemenangan Norwegia 3-2 atas Senegal. Kapten Martin Odegaard memimpin pemain, staf pelatih, dan suporter dalam gerakan sinkron di akhir pertandingan. Tak berhenti di situ, para penggemar bahkan mencoba mengajak Raja Norwegia ikut serta dalam perayaan selanjutnya.
Namun, di mata Swedia, 'Viking Row' lebih terasa sebagai gangguan daripada kebaruan. Bek Swedia, Gustaf Lagerbielke, dengan nada sinis mengatakan, "Saya tidak akan pernah melakukannya. Kami hanya mendesah. Mungkin lebih kepada kru TV yang selalu memperbesarnya setiap kali." Ia menambahkan bahwa selebrasi itu terlalu mirip dengan 'thunderclap' yang dipopulerkan suporter Islandia di turnamen sebelumnya. Rekan setimnya, Elliot Stroud, menilai gerakan itu mulai berlebihan. "Terasa seperti mereka melakukannya setiap ada kesempatan. Tapi, bagaimanapun, itu berhasil bagi mereka," ujarnya.
Situasi berbeda dialami Denmark. Gagal lolos ke Piala Dunia setelah kalah play-off dari Republik Ceko, Denmark harus menyaksikan dari luar. Jurnalis Denmark, Johnny Wojciech Kokborg, dalam kolomnya di tabloid B.T. menulis, "Ini sudah mendekati perundungan orang dewasa Nordik. Orang Norwegia sedang mengalami pesta terbesar dalam hidup mereka. Dan yang lebih menyakitkan, ditemani tim nasional yang benar-benar bisa bermain sepak bola." Ia mengakui bahwa kenyataan pahit bagi Denmark adalah mereka bukan lagi yang terbaik di kawasan Nordik. "Sungguh tak tertahankan. Anda sedang mengejek kami, Norwegia," tambahnya.
Bagi Indonesia, rivalitas semacam ini mungkin terasa asing, namun bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana euforia sepak bola bisa memicu dinamika regional. Di Asia Tenggara, persaingan serupa kerap terjadi antara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Selebrasi khas suporter atau pemain sering kali menjadi simbol kebanggaan yang bisa memicu ketegangan. Misalnya, selebrasi 'Garuda' ala Timnas Indonesia atau yel-yel khas suporter Thailand yang kerap direspons dengan sentimen serupa.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Norwegia mampu mempertahankan performa dan menjaga rivalitas ini tetap dalam batas sportivitas. Atau justru 'Viking Row' akan menjadi bumerang yang memicu permusuhan lebih dalam? Yang jelas, Piala Dunia 2026 telah memberikan panggung baru bagi persaingan Skandinavia yang selama ini tersembunyi.



