Muni Long Jalani Transplantasi Paru Darurat: Antara Suara dan Hidup
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi R&B Muni Long menjalani transplantasi paru ganda setelah dokter memberi prognosis satu minggu hidup.
- Keputusan operasi dipicu oleh diagnosis lupus dan pneumonia, serta kekhawatiran akan dampak pada suaranya.
- Setelah pemulihan, ia harus menunggu enam bulan hingga setahun sebelum bisa tampil kembali.

Penyanyi-penulis lagu pemenang Grammy, Muni Long, mengungkapkan bahwa ia menjalani transplantasi paru ganda darurat setelah dokter memberinya prognosis hanya satu minggu untuk hidup. Keputusan itu diambil setelah ia dihadapkan pada kenyataan bahwa tanpa operasi, ia harus memilih antara perawatan paliatif atau kesempatan untuk bertahan hidup.
Muni, yang telah didiagnosis lupus sejak 2014, menceritakan pengalamannya dalam wawancara dengan Good Morning America. Ia mengaku terkejut saat dokter menyampaikan pilihan tersebut. “Rahang saya jatuh. Benar-benar. Saya pikir itu kasar. Tapi mereka bilang, ‘Ini bukan lelucon. Anda harus memilih: pergi ke hospice atau dapatkan paru-paru ini,'” ujarnya.
Kekhawatiran awal Muni berfokus pada bagaimana operasi akan memengaruhi suaranya, aset terbesarnya sebagai penyanyi. Namun, setelah merenungkan kematiannya sendiri, ia memikirkan putranya yang berusia tiga tahun, Tatum, dan memutuskan untuk menjalani operasi. “Ego dan kesombongan membuat saya bertanya, ‘Bagaimana dengan suara saya? Apa yang akan terjadi?’ Tapi kemudian saya melihat anak saya, dan saya berpikir tentang betapa banyak kehidupan yang harus saya jalani. Kualitas hidup adalah yang utama,” katanya.
Muni mengakui bahwa ia telah lama merasakan ada yang tidak beres dengan kesehatannya, namun tekanan industri musik memaksanya terus bekerja. “Setiap hari saya batuk dan meludah ke cangkir. Saya minum banyak obat untuk bertahan. Di industri ini, Anda selalu berada di depan orang. Saya berfoto dan terengah-engah seperti baru lari maraton,” kenangnya. Ia menyesali keputusan mengikuti tur tersebut, meskipun mengaku terpaksa karena situasi keuangan.
Kini, setelah menjalani operasi, Muni merasa “luar biasa” dan bebas gejala. Ia akan menjalani pemeriksaan vokal terakhir pada Agustus mendatang, karena ia juga menjalani operasi pita suara. Dokter memperingatkan bahwa butuh waktu enam bulan hingga setahun sebelum ia bisa tampil kembali, namun Muni optimistis.
Kisah Muni Long menjadi pengingat akan kerentanan kesehatan di balik gemerlap industri hiburan. Bagi penggemar di Indonesia, perjuangannya melawan lupus dan pneumonia menyoroti pentingnya deteksi dini dan akses terhadap perawatan medis yang memadai. Pertanyaan yang tersisa: akankah ia dapat kembali ke panggung dengan suara yang sama, atau justru menemukan warna baru dalam musiknya?



