Mengaku Kerasukan Setan, Bintang Game of Thrones Berakhir di Rumah Sakit Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Hannah Murray, pemeran serial Game of Thrones, mengaku pernah dirawat di bangsal psikiatri setelah seorang pemimpin kultus mengatakan dirinya kerasukan setan dan melakukan eksorsisme.
- Dalam memoarnya, ia menceritakan bagaimana ia terjebak dalam kursus penyembuhan energi yang dipimpin oleh seorang kultus yang ia sebut Steve, yang kemudian mendiagnosisnya kerasukan saat syuting film Detroit.
- Setelah tiga minggu dirawat, ia didiagnosis menderita gangguan bipolar, yang ia akui membawa kelegaan karena menjelaskan tahun-tahun pergulatan mental yang dialaminya.

Hannah Murray, aktris yang dikenal lewat perannya sebagai Gilly dalam serial Game of Thrones, mengungkap pengalaman traumatisnya saat dirawat di bangsal psikiatri setelah seorang pemimpin kultus meyakinkannya bahwa ia kerasukan setan dan telah menjalani ritual eksorsisme. Kisah ini ia buka dalam memoar terbarunya berjudul The Make-Believe: A Memoir of Magic and Madness, yang dikutip oleh majalah The Cut.
Murray menceritakan bahwa ia pernah mengikuti kursus penyembuhan energi di sebuah hotel di London, dengan harapan bisa memasuki dunia fantasi dan merasa seperti seorang dukun. Namun, ia justru sepenuhnya terperangkap oleh seorang pria yang ia sebut Steve, yang kemudian menjadi pusat dunianya. Steve, yang ia gambarkan sebagai raja, tuhan, dan cinta sejatinya, meyakinkan Murray bahwa ia kerasukan setan saat syuting film Detroit dan telah melakukan eksorsisme padanya.
“Bahkan setelah saya diberi tahu bahwa saya akan dirawat secara paksa, saya tidak khawatir. Steve bilang saya kerasukan setan saat syuting Detroit. Dia sudah melakukan eksorsisme pada saya. Jadi saya hanya peduli pada energi yang berputar di tubuh saya dan suara-suara di kepala saya,” tulis Murray dalam memoarnya. Ia mengaku hanya peduli berkomunikasi dengan Steve, hingga suatu hari ia tiba-tiba meledak dan mengarahkan kemarahan padanya.
Setelah tiga minggu menjalani perawatan, Murray diizinkan pulang. Namun, ia mengaku kondisinya belum sepenuhnya pulih. “Saya tidak sehat saat meninggalkan rumah sakit. Ini bukan kisah pemulihan saya—setidaknya bukan yang sederhana. Saya masuk dalam kondisi sangat psikotik dan keluar dengan kondisi sedikit lebih baik,” tulisnya. Ia kemudian dirujuk ke psikiater dan mengungkapkan riwayat penyalahgunaan narkoba, minum alkohol berlebihan, menyakiti diri sendiri, serta keinginan kuat untuk bunuh diri. Sang psikiater kemudian mendiagnosisnya dengan gangguan bipolar.
Murray mengaku diagnosis itu membawa kelegaan. “Itu masuk akal. Saya memikirkan panggilan telepon seorang teman pada bulan Oktober, kekhawatirannya tentang intensitas naik turun yang semakin tinggi. Gangguan bipolar terasa seperti kata-kata yang tak terucap di balik kekhawatirannya. Saya tidak mau mengakui ada yang salah saat itu. Tapi lebih sulit, setelah kejadian baru-baru ini, untuk terus percaya semuanya baik-baik saja,” ungkapnya. Diagnosis itu, menurutnya, memberikan penjelasan atas bertahun-tahun pergulatan mental, penderitaan, dan kebingungan yang ia alami.
Kisah Murray menjadi pengingat akan bahaya pengaruh kultus dan pentingnya kesadaran akan kesehatan mental. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi, di mana praktik penyembuhan alternatif dan klaim supranatural seringkali mengeksploitasi kerentanan psikologis individu. Kasus ini juga menyoroti perlunya literasi kesehatan mental yang lebih baik agar masyarakat tidak mudah terjebak pada klaim-klaim yang tidak berdasar ilmiah. Pertanyaannya, sejauh mana regulasi dan edukasi di Indonesia mampu melindungi masyarakat dari praktik-praktik semacam itu?



