Polisi Pakistan Bentuk Tim Khusus Usut Pemerkosaan dan Pembunuhan Bocah Tiga Tahun di Karachi
Baca dalam 60 detik
- Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun ditemukan tewas dalam karung goni setelah diperkosa dan dibunuh di kawasan Quaidabad, Karachi.
- Tim investigasi tingkat tinggi yang dibentuk Inspektur Jenderal Polisi Sindh telah mengumpulkan sampel DNA dari belasan tersangka, termasuk kerabat korban.
- Kasus ini memicu kemarahan publik dan menjadi pengingat rentannya anak-anak terhadap kekerasan seksual, sejalan dengan tren serupa di Indonesia.

Polisi Pakistan membentuk tim investigasi tingkat tinggi untuk mengusut kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang bocah perempuan berusia tiga tahun di kawasan Quaidabad, Karachi. Tim yang dipimpin oleh Inspektur Jenderal Polisi Sindh, Javed Alam Odho, telah mengumpulkan sampel DNA dari belasan tersangka yang tinggal di lingkungan sekitar korban.
Korban, Kulsoom Mohammed Qasim, dilaporkan meninggalkan rumah untuk bermain di luar pada Selasa (23/6) sore. Beberapa jam kemudian, jasadnya ditemukan dalam karung goni di gerbang utama jalan menuju rumahnya, dekat Masjid Mustafa di Muslimabad. Dokter yang melakukan otopsi memastikan bahwa bocah malang itu mengalami pemerkosaan brutal sebelum dibunuh.
Malir SSP (Investigasi) Majida Perveen Halepota mengungkapkan bahwa polisi telah mengambil sampel DNA dari sejumlah tersangka dan kini menunggu hasil laboratorium. Seorang pejabat tim investigasi menambahkan bahwa tim dokter yang dipimpin oleh ahli bedah polisi Dr. Summaiya Syed telah mengambil sampel dari 12 tersangka, beberapa di antaranya adalah kerabat korban. Sampel tersebut telah dikirim ke laboratorium Universitas Karachi (KU) dan hasilnya diharapkan segera keluar.
Berdasarkan laporan dari Cabang Khusus dan informan lokal, penyidik kini memfokuskan perhatian pada tiga tersangka utama yang diduga merupakan kerabat dekat korban. Pejabat tersebut menyatakan bahwa mereka berencana menahan para tersangka untuk diinterogasi, tetapi terobosan kasus sangat bergantung pada kecocokan DNA dari laboratorium KU. Tim yakin bahwa pelaku berasal dari lingkungan yang sama dengan korban.
Polisi Quaidabad telah mendaftarkan kasus berdasarkan laporan ayah korban terhadap orang tidak dikenal, dengan pasal-pasal pembunuhan berencana, menghilangkan barang bukti, pemerkosaan, perbuatan tidak wajar, penculikan, dan niat bersama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pakistan.
Dr. Summaiya Syed menggambarkan kasus ini sebagai salah satu yang paling mengerikan yang pernah ia tangani. โSemua kasus pemerkosaan dan pembunuhan anak memang mengerikan, tetapi beberapa lebih mengerikan dari yang lain. Ini salah satunya. Sangat mengganggu,โ ujarnya. Sementara itu, IGP Odho membentuk komite yang dipimpin oleh Deputi Inspektur Jenderal Zona Timur Karachi untuk melakukan penyelidikan transparan. โOrang-orang yang terlibat dalam insiden mengerikan ini tidak pantas mendapatkan keringanan hukuman dan akan ditindak tegas,โ tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat akan maraknya kekerasan seksual terhadap anak di Pakistan. Sebelumnya, polisi Sargodha menangkap empat tersangka dalam kasus pembunuhan bocah tujuh tahun yang jasadnya ditemukan di sebuah toko. Tersangka utama dituduh mencoba memperkosa korban sebelum membunuhnya. Namun, sehari kemudian, tersangka utama tewas dalam baku tembak dengan aparat setelah kabur dari tahanan.
Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi dan memicu keprihatinan publik. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi masalah serius. Kasus di Karachi ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap lingkungan tempat anak bermain, serta perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan seksual anak. Masyarakat Indonesia pun diingatkan untuk lebih waspada dan proaktif dalam melindungi anak-anak dari ancaman serupa.
Ke depan, keberhasilan pengungkapan kasus ini sangat bergantung pada hasil tes DNA dan konsistensi penyelidikan. Akankah aparat Pakistan mampu mengungkap jaringan pelaku kekerasan seksual anak yang mungkin lebih luas? Ataukah kasus ini akan menjadi satu lagi catatan kelam yang tak terpecahkan? Publik menanti jawaban.



