Dua Adegan Sudah Cukup: Craig Gillespie Yakin Garap 'Supergirl'
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Craig Gillespie langsung yakin menyutradarai 'Supergirl' setelah membaca dua adegan pertama naskah Ana Nogueira.
- Gillespie mempresentasikan 120 gambar visi filmnya kepada James Gunn dan Peter Safran, termasuk ide menunda kemunculan kostum superhero hingga akhir cerita.
- Milly Alcock, yang sudah dikonfirmasi sebagai Supergirl, disebut sebagai fondasi emosional film berkat karakter 'scrappy' dan 'fierce' yang ia tunjukkan di 'House of the Dragon'.

Keputusan untuk menyutradarai film superhero kerap kali membutuhkan pertimbangan panjang. Namun bagi Craig Gillespie, dua adegan saja sudah cukup untuk meyakinkannya bahwa 'Supergirl' adalah proyek yang harus ia garap. Sutradara berusia 58 tahun itu mengaku langsung tergerak begitu membaca naskah Ana Nogueira, meskipun awalnya tidak berniat menggarap film superhero skala besar.
Dalam wawancara dengan The Playlist, Gillespie mengungkapkan bahwa naskah 'Supergirl' datang begitu saja tanpa diduga. Ia mengaku penggemar karya James Gunn, sehingga tertarik untuk melihat lebih jauh. "Saya membaca naskah itu, masih dengan keraguan, tetapi begitu masuk adegan kedua, saya langsung berpikir, 'Baiklah, saya ikut. Saya tahu film ini. Saya tahu cara membuatnya,'" ujar Gillespie.
Yang membuat Gillespie terpikat bukan hanya aksi, melainkan perpaduan emosi dan humor yang tajam. Adegan pembuka yang intens, diikuti adegan bar bersama Milly Alcock, dinilainya memiliki 'pathos, humor, dan sikap irreveren' yang langka. "Saya sangat bersemangat dengan tone film ini. Ana melakukan pekerjaan luar biasa," puji sutradara 'Cruella' tersebut.
Setelah membaca naskah, Gillespie segera mempresentasikan visinya kepada James Gunn dan Peter Safran. Ia datang dengan 120 gambar yang menggambarkan seperti apa film yang ia bayangkan. Salah satu ide beraninya: menunda penampilan kostum Supergirl hingga akhir cerita. "Saya mengusulkan agar kita tidak melihatnya dalam kostum superhero sampai selambat mungkin, karena perjalanan emosional yang ia jalani. Dan mereka menerima semuanya dengan luar biasa," kata Gillespie.
Keputusan untuk tidak menampilkan kostum sejak awal ini dinilai sebagai langkah berani yang memperkuat karakter. Gillespie ingin penonton merasakan transformasi emosional Supergirl sebelum ia benar-benar siap menjadi pahlawan. Pendekatan ini juga mencerminkan gaya penyutradaraan Gillespie yang kerap fokus pada kedalaman karakter, bukan sekadar aksi spektakuler.
Satu hal yang membuat Gillespie merasa beruntung adalah Milly Alcock sudah ditetapkan sebagai Supergirl sebelum ia bergabung. Aktris Australia yang dikenal lewat 'House of the Dragon' itu dinilai memiliki kualitas 'scrappy, fierce, dan humor' yang sesuai dengan visi James Gunn. "Mengetahui bahwa itulah yang James cari sebagai Supergirl memberi saya lisensi lebih untuk benar-benar mendalami itu. Saya tidak bisa lebih bersemangat lagi dengan Milly yang sudah terikat sebelumnya," ungkap Gillespie.
Bagi penonton Indonesia, kehadiran 'Supergirl' di bawah arahan Gillespie dan produksi James Gunn menambah daftar film DC yang patut dinantikan. Dengan pendekatan yang lebih segar dan fokus pada karakter, film ini berpotensi menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh. Pertanyaannya, akankah 'Supergirl' mampu bersaing dengan film superhero lain yang sudah lebih dulu mapan? Hanya waktu yang akan menjawab.



