Noah Kahan Geram Rambu Jalan Dicuri Fans, Siap Ganti Rugi
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Noah Kahan mengutuk aksi pencurian rambu jalan di Vermont yang disebut dalam lagunya.
- Ia menawarkan membayar penggantian rambu dan meminta fans menghormati privasi warga setempat.
- Insiden ini menyoroti dampak negatif popularitas lagu terhadap komunitas kecil.

Noah Kahan, penyanyi di balik hit "Stick Season," melontarkan kecaman keras terhadap para penggemarnya yang nekat mencuri rambu jalan di Strafford, Vermont, setelah nama jalan tersebut disebut dalam lagunya. Dalam unggahan di Instagram Story, pelantun "The View Between Villages" itu menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk tidak hormat yang merepotkan warga setempat.
Rambu Alger Brook Road, lokasi tempat Kahan pernah tinggal, menjadi sasaran pencurian berulang kali. Sang musisi berusia 29 tahun itu mengaku geram karena penyebutan nama jalan dalam lagunya dijadikan alasan untuk mengganggu ketenteraman warga yang bekerja keras dan ramah. "Ini benar-benar tidak sopan dan menyusahkan kota," tulisnya.
Kahan pun mengambil langkah konkret dengan menawarkan diri membayar penggantian rambu yang hilang. Ia meminta warga Strafford atau anggota dewan kota untuk menghubunginya atau ibunya guna mendiskusikan solusi. "Saya benar-benar minta maaf kalian harus menghadapi ini," tambahnya.
Dalam pesan yang sama, Kahan juga mengingatkan penggemar untuk menghormati privasi keluarganya dan tidak mengganggu tempat-tempat yang menjadi saktinya. "Komunitas ini telah tumbuh sangat besar, dan saya harus mengingatkan betapa saya melindungi privasi keluarga dan tempat asal saya," tegasnya.
Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi di industri musik. Sejumlah artis pernah menghadapi situasi serupa ketika lokasi yang disebut dalam lagu menjadi tujuan wisata yang tidak terkendali. Di Indonesia, misalnya, lagu "Kangen" dari Dewa 19 membuat sebuah rumah di Bandung ramai dikunjungi fans, meski tidak sampai menimbulkan aksi pencurian. Namun, kasus Kahan menunjukkan bagaimana popularitas dapat berdampak negatif pada komunitas kecil.
Kahan sendiri baru-baru ini berbicara tentang proses kreatif album terbarunya, The Great Divide, yang ditulis saat kembali ke Vermont. Ia mengaku pulang kampung membantunya merasa lebih rileks dan kembali memandang musik sebagai hobi. "Saya tidak bisa kembali ke diri saya yang dulu, tapi ini memberi saya jalan tengah," ujarnya.
Ke depan, Kahan berharap para penggemar lebih bijak dan tidak mengulangi tindakan serupa. Pertanyaan yang mengemuka: akankah popularitas sebuah lagu selalu harus dibayar dengan gangguan terhadap kehidupan nyata?



