Sri Langka Kerahkan Militer Lawan DBD, Kasus Mendekati 50.000
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Sri Langka mengerahkan personel angkatan darat, laut, dan udara untuk memburu sarang nyamuk Aedes aegypti di tengah lonjakan kasus demam berdarah yang mencapai hampir 50.000 tahun ini.
- Rumah sakit kewalahan dengan lebih dari 1.000 pasien per hari, memicu kekhawatiran terulangnya krisis 2017 yang mencatat 186.000 kasus dan 440 kematian.
- Organisasi Kesehatan Dunia mengaitkan penyebaran dengue yang semakin cepat dengan perubahan iklim, menjadi peringatan bagi negara tropis seperti Indonesia.

Lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sri Langka memaksa pemerintah mengambil langkah darurat: mengerahkan militer untuk membasmi nyamuk Aedes aegypti. Hingga pekan ini, hampir 50.000 orang telah terinfeksi dan 29 di antaranya meninggal dunia, sementara rumah sakit dilaporkan kewalahan menerima lebih dari 1.000 pasien setiap harinya.
Kantor Presiden Anura Kumara Dissanayake mengumumkan bahwa personel angkatan darat, laut, dan udara akan bergabung dalam satuan khusus yang bertugas mengidentifikasi dan menghancurkan tempat perkembangbiakan nyamuk. Langkah ini diambil setelah data resmi menunjukkan peningkatan drastis sejak awal Juni, dengan lebih dari seribu kasus baru tercatat dalam sehari pada pekan ini.
Kepala unit pengendalian dengue pemerintah, Kapila Kannangara, menyatakan kekhawatirannya bahwa rumah sakit negeri maupun swasta mungkin tidak mampu menampung lonjakan lebih lanjut. โRumah sakit sudah berada di bawah tekanan. Kami tidak ingin mengalami situasi seperti tahun 2017,โ ujarnya. Pada puncak wabah delapan tahun lalu, Sri Langka mencatat 186.000 kasus dan 440 kematian.
Selain pembentukan satuan militer, pemerintah juga akan menindak tegas pemilik properti yang membiarkan sarang nyamuk berkembang di lingkungan mereka. Sebuah kampanye pembersihan sarang nyamuk secara nasional akan diluncurkan dalam waktu dekat. Nyamuk Aedes, yang mudah dikenali dari garis-garis hitam putih di kakinya, berkembang biak di genangan air bersih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa dengue dan penyakit bawaan nyamuk lainnya menyebar lebih cepat dan lebih luas akibat perubahan iklim. Suhu yang lebih hangat dan pola curah hujan yang tidak menentu menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak di wilayah yang sebelumnya tidak endemis.
Bagi Indonesia, situasi di Sri Langka menjadi cermin yang patut diwaspadai. Sebagai negara tropis dengan kasus DBD yang tinggi setiap tahunnya, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: musim hujan yang berkepanjangan, urbanisasi yang tidak terkendali, dan keterbatasan sumber daya untuk fogging serta edukasi masyarakat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia mencatat lebih dari 150.000 kasus DBD dengan angka kematian yang masih signifikan.
Langkah Sri Langka yang melibatkan militer menunjukkan betapa seriusnya ancaman dengue jika tidak ditangani sejak dini. Namun, para ahli menilai bahwa intervensi jangka panjang seperti pengelolaan lingkungan, vaksinasi, dan perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi kunci utama. โMengerahkan militer hanya solusi sementara. Yang lebih penting adalah memutus siklus perkembangbiakan nyamuk secara berkelanjutan,โ ujar seorang epidemiolog yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Sri Langka mampu mengendalikan wabah saat ini, tetapi juga bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, belajar dari pengalaman ini untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini dan respons cepat terhadap penyakit yang diperparah oleh perubahan iklim.



