Kontroversi Penalti Ghana vs Inggris: VAR di Piala Dunia 2026 Bikin Geram
Baca dalam 60 detik
- Insiden tekel Ezri Konsa pada Prince Adu di menit akhir laga Inggris vs Ghana memicu perdebatan sengit soal keputusan wasit yang tidak memberikan penalti.
- Para analis sepakat bahwa Konsa gagal menyentuh bola dan menjatuhkan pemain Ghana, namun VAR tidak diaktifkan karena kebijakan FIFA yang menerapkan ambang batas tinggi untuk intervensi.
- Kebijakan VAR yang berbeda di Piala Dunia dibandingkan liga domestik berpotensi memengaruhi persepsi keadilan pertandingan, termasuk di Indonesia yang tengah mengembangkan standar wasit.

Laga uji coba antara Inggris dan Ghana yang berakhir tanpa gol pada Selasa malam menyisakan kontroversi besar: wasit memutuskan tidak memberikan penalti setelah bek Inggris Ezri Konsa menjatuhkan gelandang Ghana Prince Adu di kotak terlarang. Replay jelas menunjukkan Konsa mengenai lutut Adu tanpa menyentuh bola, namun baik wasit di lapangan maupun Video Assistant Referee (VAR) memilih untuk tidak campur tangan.
Insiden terjadi sekitar sepuluh menit sebelum peluit panjang. Adu yang berlari kencang ke dalam kotak penalti dijatuhkan oleh Konsa yang melompat dengan kedua kaki terangkat. Mantan striker Manchester United, Wayne Rooney, yang menjadi komentator BBC One, menyebut tekel itu sebagai risiko besar. "Konsa tidak menyentuh bola sama sekali, kakinya melayang, dan ia menjatuhkan lawan. Menurut saya itu penalti," ujar Rooney.
Pendapat serupa disampaikan mantan bek Manchester City, Micah Richards. Ia menilai Inggris sedang mengejar gol, tetapi lini belakang tetap harus waspada. "Di hari lain, itu bisa saja dianggap penalti," kata Richards. Mantan asisten wasit final Piala Dunia 2010, Darren Cann, bahkan mengakui sebagai penggemar Inggris ia lega, tetapi secara profesional ia yakin keputusan itu keliru. "Konsa tidak mengontrol tubuhnya, ia melayang dan menjatuhkan penyerang. Ini seharusnya penalti," tegas Cann.
Yang menarik, mengapa VAR tidak memeriksa insiden ini? Di Premier League, tekel semacam itu hampir pasti akan ditinjau ulang. Namun, Piala Dunia 2026 menerapkan pedoman berbeda. Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, menetapkan ambang batas yang lebih tinggi untuk pelanggaran di lapangan. Filosofinya: jika wasit membiarkan lebih banyak tekel, maka VAR harus lebih jarang turun tangan. Inilah yang membuat banyak penggemar dan analis frustrasiโkonsistensi yang diinginkan justru menimbulkan inkonsistensi persepsi.
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pelajaran berharga. Di tengah upaya PSSI meningkatkan kualitas wasit dan adopsi VAR di Liga 1, kebijakan FIFA menunjukkan bahwa teknologi bukanlah solusi mutlak. Keputusan tetap bergantung pada interpretasi manusia dan kebijakan turnamen. Jika Indonesia ingin menerapkan VAR secara efektif, perlu ada kejelasan soal ambang batas intervensi agar tidak menimbulkan kebingungan serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka: apakah FIFA akan mempertahankan kebijakan ini atau menyesuaikannya setelah melihat reaksi publik? Satu hal pasti, insiden ini akan terus dibahas hingga turnamen berakhir, dan menjadi pengingat bahwa sepak bola tetaplah olahraga yang penuh perdebatan.



