Obat Demensia Berpotensi Redam Kelelahan dan Depresi Akibat Long COVID
Baca dalam 60 detik
- Penelitian Jepang mengungkap bahwa penurunan asetilkolin di otak memicu kelelahan dan depresi pada pasien long COVID.
- Donepezil, obat demensia yang meningkatkan asetilkolin, terbukti memperbaiki gejala tersebut dalam uji coba pada pasien dengan antibodi SITH-1 positif.
- Temuan ini membuka jalan bagi diagnosis berbasis antibodi dan terapi repurposing yang bisa diterapkan di Indonesia dengan biaya lebih rendah.

Tim peneliti dari Tokyo Jikei University School of Medicine berhasil mengungkap mekanisme di balik kelelahan dan depresi yang menjadi keluhan utama penderita long COVID, sekaligus menemukan bahwa obat demensia yang sudah beredar dapat meredakan gejala tersebut. Temuan ini memberikan harapan baru bagi jutaan penyintas COVID-19 yang masih bergulat dengan gejala berkepanjangan.
Long COVID, atau sindrom pasca-COVID-19, ditandai oleh berbagai gejala yang menetap berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah infeksi akut. Dua gejala yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan ekstrem dan depresi, yang secara signifikan mengganggu produktivitas dan kualitas hidup. Hingga saat ini, belum ada terapi yang disetujui secara khusus untuk kondisi ini, sehingga penemuan mekanisme biologis menjadi langkah krusial.
Peneliti memfokuskan diri pada reaktivasi virus herpes manusia 6B (HHV-6B) yang sebelumnya dikaitkan dengan long COVID. Mereka mengukur kadar antibodi anti-SITH-1, protein yang dihasilkan HHV-6B, dalam sampel darah pasien long COVID dan membandingkannya dengan individu sehat. Hasilnya, sekitar 70% pasien long COVID memiliki antibodi tersebut, menandakan reaktivasi virus terjadi secara luas pada kelompok ini. Lebih lanjut, pasien dengan antibodi positif cenderung mengalami kelelahan dan depresi yang lebih parah.
Dalam percobaan pada tikus, tim peneliti menginduksi ekspresi protein SITH-1 di bulbus olfaktorius otak. Hal ini menyebabkan penurunan kadar asetilkolin, neurotransmitter yang berperan dalam fungsi kognitif dan suasana hati, serta memunculkan perilaku mirip kelelahan dan depresi. Ketika tikus diberi donepezil, obat yang biasa digunakan untuk demensia dan bekerja dengan meningkatkan asetilkolin, gejala-gejala tersebut membaik. Temuan ini kemudian dikonfirmasi dengan menganalisis ulang data uji acak terkendali sebelumnya, yang menunjukkan bahwa donepezil secara signifikan memperbaiki skor kelelahan dan depresi pada pasien dengan antibodi SITH-1 positif.
Naomi Oka, ketua tim peneliti dan dosen virologi di Jikei University, menjelaskan bahwa temuan ini tidak hanya membuka peluang terapi baru, tetapi juga pengembangan metode diagnostik untuk mengidentifikasi pasien yang paling mungkin merespons pengobatan. โKami sedang mengembangkan tes antibodi SITH-1 untuk menyaring pasien long COVID yang cocok diterapi dengan donepezil,โ ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa mekanisme peradangan otak akibat defisiensi asetilkolin mungkin relevan untuk gangguan lain, termasuk depresi mayor.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi penting. Dengan jumlah kasus COVID-19 yang tinggi, diperkirakan banyak penyintas mengalami long COVID tanpa diagnosis yang jelas. Donepezil sudah tersedia di Indonesia sebagai obat generik dengan harga terjangkau, sehingga potensi repurposing-nya dapat menjadi solusi cepat dan murah. Namun, validasi lebih lanjut melalui uji klinis di populasi Asia Tenggara masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sistem kesehatan Indonesia siap mengadopsi skrining antibodi SITH-1 dan mengintegrasikan terapi ini ke dalam pedoman penanganan long COVID?



