Suplemen DHA Tak Terbukti Cegah Alzheimer, Studi Ungkap Keterbatasan
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis dua tahun menunjukkan DHA dosis tinggi tidak memperbaiki fungsi kognitif atau struktur otak pada lansia berisiko demensia.
- Meskipun kadar DHA di otak meningkat, efeknya nihil, menegaskan bahwa suplemen tunggal tidak cukup untuk mencegah Alzheimer.
- Para ahli menyarankan pendekatan multimodal—pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kontrol faktor risiko—sebagai strategi yang lebih efektif.

Suplemen asam lemak omega-3, khususnya docosahexaenoic acid (DHA), yang selama ini diyakini mampu menjaga kesehatan otak, kembali mendapat sorotan. Sebuah uji klinis fase 2 yang dipublikasikan di eBioMedicine menemukan bahwa konsumsi DHA dosis tinggi selama dua tahun tidak memberikan manfaat signifikan terhadap fungsi kognitif maupun perubahan struktur otak pada lansia yang berisiko tinggi mengalami demensia.
Penelitian ini melibatkan 365 partisipan berusia 55–80 tahun tanpa demensia, namun memiliki asupan DHA rendah dan setidaknya satu faktor risiko demensia atau penyakit kardiovaskular. Separuh dari mereka merupakan pembawa alel APOE ε4, varian genetik yang meningkatkan risiko Alzheimer. Selama 24 bulan, kelompok intervensi menerima suplemen DHA sementara kelompok kontrol mendapat plasebo. Sayangnya, meskipun kadar DHA dalam cairan serebrospinal dan darah meningkat, tidak ada perbaikan dalam memori, kemampuan berpikir, maupun indikator neurodegenerasi.
Temuan ini mengejutkan mengingat DHA selama ini dipromosikan sebagai nutrisi penting untuk otak. Hussein N. Yassine, peneliti utama dari Keck School of Medicine USC, menegaskan bahwa peningkatan DHA di otak tidak otomatis berarti perlindungan terhadap demensia. “Masalahnya bukan pada pengiriman nutrisi, melainkan pada kompleksitas penyakit Alzheimer yang melibatkan banyak jalur,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa risiko Alzheimer dipengaruhi oleh faktor vaskular, peradangan, resistensi insulin, gangguan tidur, hingga patologi amiloid dan tau.
Keterbatasan studi ini juga mencakup homogenitas partisipan yang relatif muda dan sehat, serta penggunaan kuesioner gaya hidup yang mungkin kurang presisi. Para peneliti mengakui bahwa populasi studi tidak sepenuhnya mewakili populasi klinis pencegahan pada umumnya. Meski demikian, hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang gagal membuktikan efektivitas suplemen tunggal dalam mencegah demensia.
Di Indonesia, konsumsi suplemen omega-3 cukup populer di kalangan usia lanjut sebagai upaya menjaga daya ingat. Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa tidak ada pil ajaib untuk mencegah Alzheimer. Dung Trinh, pakar neurologi dari MemorialCare Medical Group, menekankan bahwa pendekatan multimodal—mengontrol tekanan darah, kolesterol, aktif bergerak, tidur cukup, dan deteksi dini gangguan kognitif—jauh lebih efektif daripada mengandalkan satu jenis suplemen.
Pertanyaan kritis kini mengemuka: akankah industri suplemen dan masyarakat mulai beralih dari pendekatan suplemen tunggal menuju gaya hidup holistik? Atau justru klaim pemasaran akan terus mendorong konsumen untuk membeli produk yang belum terbukti secara ilmiah? Studi ini setidaknya menegaskan bahwa pencegahan Alzheimer memerlukan strategi yang jauh lebih komprehensif daripada sekadar menelan kapsul DHA setiap hari.



