Modus Baru Peredaran Narkoba: Etomidate 'Batman' Diselundupkan dalam Kemasan Beras Basmati
Baca dalam 60 detik
- Polda Metro Jaya menggagalkan peredaran 94 cartridge etomidate dan 100 pil ekstasi yang disembunyikan dalam kemasan beras basmati asal India.
- Dua tersangka ditangkap di Jakarta Pusat; pengiriman dilakukan melalui ekspedisi dari Medan dengan jaringan terkait Malaysia.
- Modus penyamaran narkoba dalam produk pangan impor menimbulkan kekhawatiran akan celah pengawasan logistik di Indonesia.

Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya berhasil membongkar praktik penyelundupan narkotika yang menggunakan kemasan beras basmati asal India sebagai kamuflase. Dalam operasi yang berlangsung pada Sabtu (20/6) lalu, polisi mengamankan 94 cartridge etomidate berlogo 'Batman' dan 100 butir pil ekstasi yang disimpan dalam bungkus beras dan bumbu kari.
Dua pria berinisial T (26) dan Y (29) ditangkap di sebuah rumah kos di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, setelah laporan masyarakat mencurigai aktivitas mencurigakan di lokasi tersebut. Dari penggeledahan, polisi menemukan satu kardus berisi lima bungkus beras basmati dan satu bungkus bumbu kari yang telah dimodifikasi menjadi tempat penyembunyian narkotika. "Di dalam kemasan tersebut ditemukan sebanyak 94 cartridge etomidate berlogo 'Batman' serta 100 butir pil ekstasi," ungkap Kasubdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, AKBP Triyatno Pamungkas, dalam keterangannya pada Kamis (25/6).
Pengembangan kasus membawa polisi ke sebuah apartemen di Tanah Abang, Jakarta Pusat, di mana ditemukan dua butir pil ekstasi tambahan yang diduga masih dalam satu jaringan. Triyatno menjelaskan bahwa modus operandi para pelaku adalah mengirimkan narkotika melalui jasa ekspedisi dari Medan ke Jakarta dengan menyamarkannya sebagai produk beras India. "Adapun kami dapati informasi pelaku berkaitan dengan jaringan asal Malaysia," tambahnya.
Kasus ini menyoroti celah keamanan dalam rantai logistik, terutama produk impor yang rentan disalahgunakan. Penggunaan kemasan beras basmati—komoditas yang umum beredar di Indonesia—menunjukkan upaya pelaku untuk menghindari deteksi. Etomidate sendiri merupakan obat anestesi yang disalahgunakan sebagai narkotika, sementara ekstasi tetap menjadi primadona di pasar gelap. Kombinasi ini mengindikasikan adanya permintaan tinggi di kalangan pengguna.
Konteks Indonesia: Modus penyamaran narkoba dalam produk pangan bukanlah hal baru, namun penggunaan beras impor menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan di pintu masuk dan jasa ekspedisi. Jaringan Malaysia yang disebut polisi menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi pasar utama narkotika dari kawasan regional. Kepala BNN sebelumnya telah memperingatkan tentang peningkatan penyelundupan melalui jalur darat dan laut dari Malaysia, dan kasus ini menjadi bukti nyata.
Kedua tersangka kini ditahan di Mapolda Metro Jaya untuk penyidikan lebih lanjut. Polisi masih mendalami keterkaitan mereka dengan sindikat yang lebih besar, termasuk kemungkinan adanya pelaku lain di Medan dan Malaysia. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana pengawasan terhadap jasa ekspedisi dan produk impor dapat diperketat untuk mencegah modus serupa di masa depan?



