Sagu: Kedaulatan Pangan Indonesia yang Terlupakan di Tengah Hiruk-Pikuk Beras
Baca dalam 60 detik
- Indonesia menguasai 85% lahan sagu dunia, namun komoditas ini masih minim dimanfaatkan sebagai pangan pokok alternatif.
- Sagu memiliki keunggulan agronomis dan kesehatan: tumbuh di lahan gambut tanpa pemeliharaan intensif, serta tidak menyebabkan obesitas karena pati resistennya.
- Para ahli mendorong hilirisasi sagu melalui riset dan kemitraan strategis agar menjadi agroindustri berdaya saing tinggi.

Di tengah gencarnya kampanye diversifikasi pangan, Indonesia sebenarnya memiliki satu komoditas yang tidak hanya melimpah tetapi juga ramah lingkungan: sagu. Tanaman yang mampu tumbuh di lahan gambut dan rawa ini dinilai oleh para pakar sebagai simbol kedaulatan pangan nasional, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal.
Guru Besar Agronomi dan Hortikultura IPB University, Mochamad Hasjim Bintoro, menegaskan bahwa sagu bukan sekadar alternatif pengganti beras. “Sagu merupakan simbol kedaulatan pangan Indonesia,” ujarnya. Menurut Bintoro, keunggulan utama sagu terletak pada kandungan pati resisten yang tinggi. Kalori dari sagu yang tidak terpakai tidak akan disimpan sebagai lemak, melainkan langsung dikeluarkan dari tubuh. Ini menjadikan sagu sebagai pangan yang tidak menyebabkan kegemukan—sebuah nilai tambah di tengah meningkatnya prevalensi obesitas.
Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 85% lahan sagu dunia, dengan konsentrasi terbesar di Papua dan Maluku. Berbeda dengan perkebunan sawit atau persawahan yang sering mengusir satwa liar, hutan sagu justru menjadi habitat alami yang tetap terjaga. “Ini bisa dibandingkan dengan area perkebunan lain yang bisa menghilangkan satwa liar,” jelas Bintoro. Artinya, pengembangan sagu tidak hanya soal pangan, tetapi juga pelestarian biodiversitas.
Kepala Pusat Riset Agroindustri BRIN, Taufik Hidayat, menambahkan bahwa sagu memiliki potensi besar tidak hanya sebagai pangan tetapi juga bahan baku industri non-pangan seperti biomaterial dan farmasi. “Pengembangan hilirisasi sagu perlu didukung riset, inovasi, kemitraan strategis, dan kolaborasi agar menjadi agroindustri berdaya saing tinggi,” katanya. Namun, hingga saat ini investasi dan perhatian terhadap sagu masih kalah dibandingkan komoditas lain seperti beras atau jagung.
Dari sisi agronomi, sagu menawarkan kemudahan budidaya yang luar biasa. Tanaman ini toleran terhadap tanah asam (pH rendah) dan dapat tumbuh di lahan gambut yang selama ini dianggap marginal. Pemeliharaan intensif tidak diperlukan, dan setelah mencapai usia 8-10 tahun, pohon sagu bisa dipanen kapan saja tanpa perlu ditanam kembali. Ini menjadikannya sumber karbohidrat yang murah dan berkelanjutan. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Hutan Lestari (2022) bahkan menunjukkan bahwa limbah kulit batang sagu dapat diubah menjadi biomassa sebagai sumber energi alternatif.
Bagi Indonesia, pengembangan sagu bukan sekadar soal penganekaragaman pangan, melainkan juga strategi ketahanan pangan jangka panjang. Di tengah ancaman perubahan iklim dan alih fungsi lahan, sagu menawarkan solusi yang adaptif dan ramah lingkungan. Pertanyaannya kini: akankah pemerintah dan pelaku industri serius mengangkat sagu sebagai pilar kedaulatan pangan, atau akan terus terlena dengan dominasi beras?



