Natto, Superfood Fermentasi Jepang yang Memecah Belah Selera Global
Baca dalam 60 detik
- Ekspor natto Jepang melonjak tiga kali lipat dalam delapan tahun terakhir, mencapai 5.248 ton pada 2025, dengan China dan AS sebagai pasar utama.
- Ledakan minat terhadap makanan fermentasi pasca-pandemi mendorong natto menjadi primadona baru di kalangan pencinta hidup sehat global.
- Produsen Jepang mulai menggeser citra natto dari 'makanan murah' ke produk premium, meski tekstur berlendir dan aromanya masih menjadi tantangan.

Ekspor natto, makanan fermentasi kedelai khas Jepang yang dikenal dengan tekstur berlendir dan aroma tajam, melonjak tiga kali lipat dalam delapan tahun terakhir, menandai perubahan selera global terhadap superfood kontroversial ini. Data perdagangan terbaru menunjukkan pengiriman natto ke luar negeri mencapai 5.248 ton pada 2025, dengan China dan Amerika Serikat menjadi dua pasar terbesar.
Fenomena ini tidak lepas dari gelombang kesadaran kesehatan pasca-pandemi Covid-19, di mana konsumen di berbagai negara mulai beralih ke makanan fermentasi seperti kimchi, kombucha, dan kini natto. Kandungan serat tinggi, protein, serta bakteri baik yang dimiliki natto diyakini mampu memperkuat sistem imun, melancarkan pencernaan, dan menjaga kepadatan tulang. Di China, Japan External Trade Organisation (JETRO) mencatat tren kesadaran kesehatan di kalangan kelas menengah dan atas turut mendongkrak minat terhadap produk Jepang ini.
Namun, perjalanan natto menuju panggung global tidaklah mulus. Teksturnya yang lengket dan aromanya yang menyengat masih menjadi momok bagi banyak orang, termasuk di negara asalnya sendiri. “Awalnya saya merasa aneh,” kata Wesley Smith, seorang turis asal Arizona yang mencoba natto di restoran Sendaiya, Tokyo. Namun seiring waktu, ia mengaku rasa itu menjadi kebiasaan, seperti keju yang kuat. “Karena Anda tahu keju bisa berbau seperti kaus kaki kotor,” ujarnya.
Di Amerika Serikat, pemilik restoran Jepang Suehiro di Los Angeles, Kenji Suzuki, mengamati peningkatan jumlah pelanggan non-Jepang yang berani mencoba natto setelah media sosial membahasnya sebagai superfood. “Mereka ingin tahu apakah rasanya seburuk yang dikatakan orang,” katanya. Namun, Suzuki mengakui bahwa reaksi konsumen terbelah: ada yang menyukai, ada pula yang tidak tahan.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Pasar makanan fermentasi di Tanah Air memang sudah akrab dengan tempe dan tape, namun natto masih asing bagi sebagian besar konsumen. Meski demikian, meningkatnya minat terhadap gaya hidup sehat dan makanan fungsional bisa menjadi pintu masuk. Beberapa kafe di Jakarta dan Bali mulai menyajikan natto sebagai menu sarapan sehat, meski dalam skala terbatas. Regulasi impor pangan dan preferensi rasa lokal menjadi faktor yang perlu diperhatikan jika ingin memperluas pasar.
Di sisi produksi, Jepang sendiri tengah berupaya mengubah citra natto dari sekadar “makanan murah” menjadi produk premium. Yoshihiro Noro, mantan ketua Federasi Koperasi Natto Jepang, melihat kenaikan harga akibat kelangkaan nafta—produk sampingan minyak bumi—sebagai momentum untuk meningkatkan nilai jual. Perusahaannya, Kamakurayama Natto, memproduksi natto dengan kualitas tinggi yang diklaim tidak berbau dan tidak pahit, meski tetap berlendir. Produk ini telah menembus pasar Hong Kong, Shanghai, Singapura, hingga Norwegia dengan harga tiga kali lipat dari natto biasa.
“Saya berharap akan tiba era di mana orang rela membayar lebih untuk natto berkualitas tinggi,” ujar Noro. Ia menambahkan bahwa meskipun banyak orang terpaksa memakannya karena alasan kesehatan, lambat laun mereka akan kecanduan. Pertanyaannya, mampukah natto mengulangi kesuksesan kimchi atau kombucha yang sudah lebih dulu mendunia? Ataukah tekstur lendirnya akan tetap menjadi tembok yang sulit ditembus selera global?



