Perang Yoghurt Protein: Danone vs Chobani, Siapa yang Paling Jujur?
Baca dalam 60 detik
- Danone menggugat Chobani di pengadilan AS karena tuduhan klaim protein berlebihan pada kemasan multiporsi.
- Pasar yoghurt protein tinggi di AS melonjak berkat pengguna obat penurun berat badan GLP-1 yang butuh asupan protein.
- Gugatan ini mencerminkan persaingan sengit di segmen makanan fungsional yang juga berpotensi merambah pasar Indonesia.

Danone, raksasa makanan asal Prancis, kembali melayangkan gugatan terhadap Chobani, pesaing utamanya di Amerika Serikat, kali ini soal klaim kandungan protein pada produk yoghurt multiporsi. Langkah hukum yang diajukan di pengadilan federal Manhattan pada Senin (15 Juni) itu menandai eskalasi persaingan di segmen yoghurt protein tinggi, yang tengah menikmati lonjakan permintaan berkat pengguna obat penurun berat badan GLP-1.
Dalam gugatannya, Danone menuding Chobani melebih-lebihkan jumlah protein pada label produk Chobani 20G Protein, yang dianggap sebagai saingan langsung Oikos Pro milik Danone. Menurut Danone, praktik tersebut menyesatkan konsumen dan memberi Chobani keunggulan harga yang tidak adil. Chobani membantah tuduhan itu; CEO Hamdi Ulukaya menyebut gugatan tersebut sebagai upaya Danone menciptakan pemberitaan negatif. “Kami tidak pernah menambahkan protein eksternal ke produk kami,” ujarnya kepada Reuters.
Persaingan ini terjadi di tengah perubahan pola konsumsi di AS, di mana semakin banyak pengguna obat GLP-1—seperti Ozempic dan Wegovy—mencari makanan tinggi protein untuk mencegah penyusutan otot. Studi Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa yoghurt, tidak seperti protein shake, justru mengalami peningkatan konsumsi yang lebih permanen selama dan setelah penggunaan obat tersebut. Lauren Taylor, mitra pengelola BCG, mengatakan frekuensi konsumsi makanan tinggi protein seperti yoghurt dan daging meningkat, bahkan setelah penghentian obat.
Data NielsenIQ yang dibagikan Chobani menunjukkan pangsa pasarnya di AS naik dari 21% menjadi 26% dalam tiga tahun terakhir, sementara Danone justru turun dari 30,7% menjadi 25,8%. Barclays mencatat bahwa Danone dinilai lamban menambah kapasitas produksi, sementara Chobani tumbuh lebih dari 20% per tahun. Saham Danone pun terpuruk 15% tahun ini, kontras dengan kenaikan indeks MSCI World sebesar 11%.
Bagi Indonesia, persaingan ini relevan meski pasar yoghurt protein tinggi belum sebesar AS. Tren gaya hidup sehat dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya protein membuka peluang bagi produk serupa. Namun, regulasi label pangan di Indonesia yang ketat—di bawah BPOM—menuntut kejelasan klaim nutrisi. Jika praktik pelabelan yang disengketakan di AS terbukti menyesatkan, hal itu bisa menjadi pelajaran bagi produsen lokal agar tidak terjebak dalam strategi serupa.
Ini bukan pertama kalinya Danone menggugat Chobani. Sejak 2016, setidaknya empat gugatan telah diajukan, termasuk soal kemasan kopi. Brad Charron, mantan eksekutif pemasaran Chobani, menilai Danone menggunakan jalur hukum sebagai senjata kompetitif. “Jika tidak bisa bersaing, gugat saja,” katanya. Namun, ia juga mengakui bahwa banyak perusahaan besar mengubah ukuran penyajian untuk menonjolkan kandungan protein—dan konsumen pada akhirnya cukup cerdas untuk menilai sendiri.
Ke depan, pertarungan di segmen yoghurt protein tinggi diprediksi semakin panas. Danone berjanji menambah kapasitas produksi, sementara Chobani terus menggerus pangsa pasar. Pertanyaannya, mampukah Danone membalikkan keadaan, atau justru Chobani yang akan memperkuat dominasinya? Di Indonesia, produsen lokal perlu mencermati dinamika ini agar tidak ketinggalan dalam perlombaan protein yang kian kompetitif.



