Penembakan Sekolah di Filipina: Dua Remaja Rencanakan Serangan, Polis Ungkap Pelatihan di Lapangan Tembak
Baca dalam 60 detik
- Dua siswa berusia 14 dan 15 tahun menembak mati tiga teman di Tacloban, Filipina, dalam aksi yang direncanakan sejak pagi hari.
- Pelaku termuda dilatih menembak di lapangan tembak dan terpapar konten kekerasan daring, termasuk game GoreBox yang kini diblokir.
- Kepolisian masih mendalami motif, dengan perundungan dan pengaruh kelompok daring sebagai faktor yang tidak saling meniadakan.

Dua remaja laki-laki yang menjadi pelaku penembakan massal di sebuah sekolah menengah di Tacloban, Filipina, telah merencanakan aksinya jauh-jauh hari, bahkan salah satu dari mereka sempat berlatih di lapangan tembak sebelum menjalankan serangan yang menewaskan tiga siswa dan melukai 15 lainnya. Kepolisian setempat mengungkapkan bahwa kedua tersangka, yang masing-masing berusia 14 dan 15 tahun, telah diamankan dan akan diadili sesuai hukum yang berlaku.
Peristiwa yang terjadi pada Senin (22/6) di San Jose National High School ini mengguncang kota Tacloban di Provinsi Leyte. Para siswa yang selamat menggambarkan suasana mencekam saat mereka bersembunyi di bawah meja sambil berteriak dan menangis. Jumlah korban luka bertambah menjadi 15 orang setelah pihak rumah sakit melaporkan adanya pasien baru, dengan satu orang dalam kondisi kritis akibat luka parah. "Kondisinya dalam pengawasan ketat, tetapi kami diberi tahu dia sedang berjuang untuk hidupnya," ujar juru bicara polisi Tacloban, Evalyn Diaz, kepada AFP.
Kepala kepolisian nasional Filipina, Allen Rae Co, dalam konferensi pers Selasa (23/6) menegaskan bahwa semua bukti mengarah pada perencanaan matang. Kedua pelaku diketahui berkumpul di toilet sekolah selama lebih dari satu jam pada pagi hari sebelum serangan. "Mereka tidak hanya bertindak impulsif. Ada indikasi kuat bahwa ini direncanakan," kata Co. Polisi juga menemukan bahwa pelaku berusia 14 tahun menggunakan pistol Glock 9 mm milik bibinya yang seorang polisi—kini telah ditahan dan diskors—sementara senjata lainnya, pistol kaliber .38, terdaftar atas nama agen keamanan tempat kakek pelaku 15 tahun pernah bekerja.
Motif di balik serangan ini masih terus didalami. Perundungan (bullying) disebut sebagai pemicu utama, tetapi polisi juga menemukan adanya pengaruh dari kelompok daring yang belum teridentifikasi. "Berdasarkan penyelidikan awal, pelaku 14 tahun sangat terpengaruh oleh konten online. Ia mengunggah video kekerasan dan ada indikasi sebuah kelompok yang mungkin mendorongnya melakukan ini," jelas Co. Ia menambahkan bahwa kedua faktor itu tidak saling bertentangan: "Mereka bisa saja di-bully, dan itu memperkuat pengaruh konten daring terhadap mereka."
Direktur kepolisian regional Jason Capoy mengungkapkan bahwa pelaku termuda adalah pemain setia GoreBox, sebuah game tembak-menembak orang pertama yang digambarkan "sangat kejam". Tak lama setelah pernyataan Capoy, pusat kejahatan siber Filipina mengeluarkan larangan sementara terhadap game tersebut sambil menunggu investigasi lebih lanjut. "Dia tidak terlalu mahir, tetapi tahu cara melepas magasin dan mengisi ulang," kata Capoy tentang kemampuan menembak pelaku.
Menteri Pendidikan Filipina Sonny Angara yang menjenguk korban pada Selasa mengatakan bahwa banyak siswa dan guru belum siap menceritakan kejadian tersebut. "Ketika giliran kepala sekolah berbicara, dia pingsan. Itulah yang kami sebut trauma, dan itu sangat nyata," ujar Angara. Para guru yang sempat dimintai keterangan menyebut kedua tersangka sebagai remaja biasa tanpa catatan kenakalan. "Para guru tidak mengatakan hal buruk tentang mereka. Mereka bilang hanya remaja biasa," kata Diaz.
Penembakan di sekolah memang jarang terjadi di Filipina, tetapi insiden kekerasan di lingkungan pendidikan mulai meningkat. Awal bulan ini, tujuh siswa terluka dalam serangan pisau oleh seorang siswa yang lebih tua di Provinsi Cavite. Kasus Tacloban ini menjadi peringatan dini bagi otoritas pendidikan dan kepolisian untuk memperketat pengawasan terhadap akses senjata dan konten daring yang memicu kekerasan. Pertanyaan besarnya: apakah larangan game dan peningkatan patroli cukup untuk mencegah tragedi serupa di masa depan?



