Ketika Tenis Bukan Lagi Permainan: Tekanan Orangtua dan Sistem yang Membakar Bakat Muda
Baca dalam 60 detik
- Mantan junior nomor satu Inggris, Ellie-Rose Griffiths, berhenti di usia 19 tahun akibat kelelahan dan tekanan dari orangtua yang terlalu ambisius.
- Sistem peringkat dini dan biaya besar menciptakan lingkungan toksik di mana anak diperlakukan sebagai komoditas, bukan pribadi.
- LTA dan praktisi mulai mendorong pendekatan yang lebih manusiawi, termasuk program edukasi orangtua untuk mencegah kerusakan psikologis jangka panjang.

Pada usia sembilan tahun, Ellie-Rose Griffiths sudah meninggalkan bangku sekolah untuk berlatih tenis penuh waktu. Saat itu, olahraga yang semestinya menjadi permainan berubah menjadi beban hidup. Mantan junior nomor satu Inggris itu sempat bersaing dengan nama-nama besar seperti Katie Boulter, Emma Raducanu, dan Harriet Dart, sebelum akhirnya memutuskan pensiun di usia 19 tahun karena kelelahan dan kehilangan gairah.
Kini di usia 27 tahun, Griffiths tidak hanya mengingat pukulan-pukulan indah di lapangan. Yang membekas adalah tekanan luar biasa dari lingkungan sekitarnya, terutama dari orangtua yang kerap bertindak berlebihan. "Anda melihat orangtua berteriak pada anak-anak setiap saat di tenis," ujarnya kepada BBC Sport. "Mereka kurang paham bagaimana seharusnya bersikap... bagaimana membantu anak berkembang menjadi atlet yang sesungguhnya."
Fenomena orangtua ambisius bukan hal baru dalam tenis, olahraga yang menjanjikan jutaan poundsterling di puncak. Kasus-kasus seperti ayah Jelena Dokic, Mary Pierce, dan Bernard Tomic menjadi contoh ekstrem. Chris Johnson, pelatih kepala di Sutton Coldfield Tennis Club dengan pengalaman 36 tahun, bahkan pernah harus memanggil polisi karena ulah orangtua yang tak terkendali. "Mereka tidak mau mendengar, merasa bisa lolos dari apa pun, tidak menghormati wasit—situasinya bisa sangat buruk," katanya.
Tekanan tidak hanya emosional, tetapi juga finansial. Orangtua harus mengatur transportasi, pelatihan, perjalanan, dan biaya turnamen yang terus membengkak. "Jika ingin latihan empat jam sehari dengan pelatih, itu £1.000 per minggu... lebih dari gaji orang pada umumnya," ungkap seorang orangtua. Griffiths menambahkan bahwa investasi besar ini sering mengubah perilaku orangtua: "Mereka hampir mengharapkan imbalan atas investasi itu, dan seharusnya tidak seperti itu. Anak 10 tahun tidak diharapkan bekerja, tapi itulah yang terjadi."
Todd Ley, yang pernah menjadi junior nomor satu dunia pada usia 12 tahun dan direkrut agensi IMG, mengalami nasib serupa. Latihan di akademi Nick Bollettieri bersama nama-nama seperti Williams bersaudara, Andre Agassi, dan Maria Sharapova, membuat tenis menjadi konsumsi total. "Tenis berubah dari kesenangan menjadi pekerjaan," katanya. Ayahnya yang sekaligus pelatih lebih mengutamakan tenis daripada dirinya sebagai anak. "Anak dengan cepat tidak lagi dipandang sebagai pribadi, melainkan komoditas dan saham."
Namun, tidak semua orangtua yang 'memaksa' berakhir buruk. Emma Raducanu, juara US Open 2021, justru berterima kasih pada orangtuanya yang "sangat memaksa". Ia menilai teman-teman sebayanya yang memiliki orangtua lebih longgar kini sudah tidak bermain tenis lagi. Kyle Edmund, mantan nomor satu Inggris, juga mengakui bahwa dorongan orangtuanya pada sikap dan etos kerja justru membantunya. "Ada kalanya Anda melihat orangtua lebih menginginkannya daripada anak, dan saat itulah menjadi toksik," kata Edmund. "Yang terbaik adalah ketika orangtua menjadi sistem pendukung yang luar biasa."
LTA menyadari masalah ini. Pada 2018, mereka melakukan tinjauan komprehensif terhadap sistem rating dan ranking untuk mengurangi tekanan pada anak usia dini. Kini, pemain tidak bisa mendapat peringkat nasional sebelum usia 11 tahun. LTA juga akan meluncurkan inisiatif Fair Play untuk mendorong perilaku positif orangtua. Selain itu, tersedia Program Dukungan Orangtua yang dikembangkan oleh akademisi, mencakup peran saat kompetisi, komunikasi, dan manajemen emosi.
Di sisi lain, Liya Jacobs—seorang dokter, pelatih kehidupan, dan ibu dari dua pemain tenis—bersama Griffiths dan Johnson mendirikan kursus daring bernama Winning Parents. Jacobs mengidentifikasi dua pola umum: terlalu banyak membantu (over-coaching dari pinggir lapangan) dan terlalu kritis. "Anak-anak sering menggambarkan ketakutan saat perjalanan pulang setelah pertandingan buruk. Orangtua tidak bermaksud menciptakan lingkungan seperti itu, tapi mudah terjadi di bawah tekanan."
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat semakin banyaknya orangtua yang mendorong anak-anak mereka menekuni tenis dan olahraga lain sejak dini. Tanpa pemahaman yang tepat, tekanan berlebihan justru bisa memadamkan bakat dan merusak kesehatan mental anak. Pertanyaannya, apakah sistem pembinaan olahraga di Indonesia sudah cukup menyediakan panduan bagi orangtua untuk mendukung anak secara sehat, atau justru ikut mendorong ambisi yang keliru?



