Gaji Pemain Rugby Putri Inggris Naik 25%: Target Juara Dunia 2029 di Australia
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan baru RFU memberikan kenaikan gaji 25% bagi pemain Red Roses, dengan bintang top berpotensi meraih £100.000 jika mempertahankan gelar Piala Dunia 2029.
- Meski meningkat, pendapatan pemain rugby putri Inggris masih di bawah rekan-rekan mereka di sepak bola dan kriket, mencerminkan kesenjangan komersial antar cabang olahraga.
- Kontrak tiga tingkat dengan durasi bervariasi ini merupakan yang pertama dinegosiasikan oleh serikat pemain internasional Team England Rugby.

Pemain bintang tim nasional rugby putri Inggris, Red Roses, bakal mengantongi hingga £100.000 (sekitar Rp2 miliar) jika sukses mempertahankan gelar Piala Dunia di Australia pada 2029. Angka itu terwujud dalam perjanjian kontrak baru empat tahun yang disepakati dengan Rugby Football Union (RFU), yang juga menaikkan gaji pokok sebesar 25% dari periode sebelumnya yang akan berakhir pada Juni mendatang.
Kesepakatan ini menjadi tonggak baru bagi pengembangan rugby putri di Inggris. Selain mengamankan pendapatan pemain, kontrak ini dirancang untuk mempertahankan dominasi Red Roses yang telah merebut delapan gelar Six Nations beruntun dan memenangi 38 pertandingan uji coba secara beruntun. Pada September lalu, mereka juga sukses mengangkat trofi Piala Dunia di hadapan 81.885 penonton yang memadati stadion.
Meski ada kenaikan signifikan, gaji pemain rugby putri Inggris masih tertinggal dari rekan-rekan mereka di cabang olahraga lain. Atlet kriket putri Inggris dilaporkan menerima antara £90.000 hingga £130.000 per tahun, sementara tim sepak bola putri (Lionesses) mencapai kesepakatan bonus dengan FA pada 2023 setelah perselisihan publik. Sebagai perbandingan, saat memenangi Piala Dunia September lalu, setiap pemain Red Roses mendapat bonus £20.000, dengan gaji pokok bintang top sekitar £50.000 per tahun.
RFU berkomitmen meninjau kontrak baru setelah dua tahun untuk memastikan kenaikan gaji jika performa komersial rugby putri melampaui ekspektasi. Langkah ini menunjukkan keseriusan federasi dalam menjadikan rugby putri sebagai aset komersial yang berkelanjutan. Selama satu dekade terakhir, RFU telah mengucurkan £24 juta ke liga utama putri, Premiership Women's Rugby.
Kontrak baru akan dibagi dalam tiga tingkatan, dengan pemain paling senior dan vital mendapat bayaran tertinggi. Durasi kontrak bervariasi, mulai dari satu tahun hingga tiga tahun untuk pemain yang dikontrak terpusat. Selain itu, akan ada kontrak transisi bagi pemain muda potensial. Kapten Red Roses, Meg Jones, menyebut investasi ini krusial untuk mempertahankan status sebagai tim nomor satu dunia, baik di dalam maupun luar lapangan.
Kesepakatan ini menjadi yang pertama dinegosiasikan oleh Team England Rugby, badan perwakilan pemain internasional, menggantikan peran Rugby Players Association yang selama ini menangani negosiasi. Perubahan ini menandai semakin profesionalnya pengelolaan kontrak pemain rugby putri Inggris.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana investasi berkelanjutan dan struktur kontrak yang jelas dapat mendorong prestasi olahraga putri. Meski rugby belum populer di Tanah Air, kesetaraan gender dalam olahraga dan peningkatan kesejahteraan atlet putri menjadi isu relevan yang terus diperjuangkan oleh berbagai cabang olahraga nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah lonjakan pendapatan ini mampu mempertahankan motivasi pemain untuk terus mendominasi, atau justru menimbulkan tekanan ekspektasi yang lebih tinggi. Dengan Piala Dunia 2029 di Australia yang masih empat tahun lagi, Red Roses memiliki waktu untuk membangun tim yang lebih kuat, namun juga harus menghadapi persaingan ketat dari negara-negara seperti Selandia Baru dan Kanada yang terus berkembang.



