F1 Terapkan Aturan Bahaya Panas untuk Pertama Kali di Eropa: Pembalap Wajib Pakai Rompi Pendingin
Baca dalam 60 detik
- FIA mengaktifkan aturan 'heat hazard' untuk Grand Prix Austria akhir pekan ini, pertama kali di Eropa, dengan suhu diperkirakan mencapai 32 derajat Celsius.
- Pembalap diwajibkan menggunakan rompi pendingin atau membawa beban tambahan untuk mencegah keunggulan kompetitif yang tidak adil.
- Aturan ini muncul setelah insiden di Qatar 2023 di mana sejumlah pembalap membutuhkan perawatan medis akibat kepanasan.

Formula 1 untuk pertama kalinya menerapkan aturan 'heat hazard' di benua Eropa, tepatnya pada Grand Prix Austria akhir pekan ini, menyusul gelombang panas yang melanda kawasan tersebut. Federasi Otomotif Internasional (FIA) secara resmi mengumumkan status bahaya panas pada Kamis (24/6), memaksa para pembalap untuk menggunakan perlengkapan pendingin tambahan di dalam kokpit yang suhunya bisa jauh lebih tinggi dari suhu lingkungan.
Aturan yang diperkenalkan tahun lalu ini berlaku ketika suhu udara diprakirakan melebihi 31 derajat Celsius pada hari balapan. Menurut prakiraan cuaca resmi F1 yang dirilis Rabu (23/6), suhu maksimum untuk balapan hari Minggu diperkirakan mencapai 32 derajat Celsius. Namun, di dalam kokpit, suhu bisa melonjak jauh lebih tinggi, meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke bagi pembalap.
Dengan deklarasi ini, setiap pembalap diwajibkan untuk menggunakan rompi pendingin yang mengalirkan cairan dingin melalui jaringan tabung, atau membawa beban tambahan di dalam mobil sebagai kompensasi jika memilih tidak menggunakan alat tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada keuntungan kompetitif bagi pembalap yang menggunakan perlengkapan pendingin versus yang tidak. Meski demikian, sebagian pembalap dilaporkan enggan menggunakan rompi tersebut karena dianggap tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi.
Pemicu pengembangan teknologi pendingin ini adalah insiden di Grand Prix Qatar 2023, di mana beberapa pembalap mengalami mual dan pusing akibat suhu ekstrem, bahkan ada yang membutuhkan perawatan medis. Sejak saat itu, FIA gencar menyempurnakan sistem pendingin untuk melindungi kesehatan pembalap. Sebelumnya, aturan serupa telah diaktifkan di Grand Prix Singapura yang panas dan lembap, serta Grand Prix Amerika Serikat di Austin, Texas.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, penerapan aturan ini menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrem di sirkuit-sirkuit Asia Tenggara. Dengan iklim tropis yang panas dan lembap, bukan tidak mungkin aturan heat hazard akan lebih sering diterapkan di masa depan, termasuk jika Indonesia suatu hari nanti menjadi tuan rumah balapan F1. Langkah FIA ini menunjukkan bahwa keselamatan pembalap menjadi prioritas utama di tengah perubahan iklim global yang membuat suhu ekstrem semakin sering terjadi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah teknologi pendingin ini akan menjadi standar wajib di semua balapan dengan suhu tinggi, ataukah akan ada inovasi lain seperti penjadwalan ulang balapan ke waktu yang lebih sejuk. Yang jelas, Grand Prix Austria akhir pekan ini akan menjadi ujian nyata bagi efektivitas aturan baru tersebut.



