Iklan Dettol di China Picu Kemarahan: Kampanye Anti-Seksisme Berujung Boikot
Baca dalam 60 detik
- Dettol meminta maaf setelah iklan mikro-drama di China yang menyamakan 'pria toksik' dengan bakteri menuai kecaman publik dan seruan boikot.
- Iklan tersebut dimaksudkan untuk mengkritik stereotip gender, tetapi dianggap merendahkan perempuan dan memicu perdebatan sengit di media sosial China.
- Kontroversi ini menjadi pengingat bagi merek global tentang risiko kampanye yang salah sasaran di pasar sensitif seperti China.

Merek pembersih asal Inggris, Dettol, terpaksa meminta maaf setelah iklan terbarunya di China yang diklaim sebagai kritik terhadap seksisme justru memicu gelombang kemarahan publik. Iklan bergaya mikro-drama berdurasi lima menit itu dituduh merendahkan perempuan dan menyamakan standar kebersihan dengan nilai moral seseorang.
Dalam iklan tersebut, seorang pria digambarkan mencari pasangan yang 'bersih' dan 'tidak terkontaminasi pria lain'. Alur cerita berbelok ketika kekasih barunya justru mengecam sikap misoginis sang pria dan memutuskan hubungan. Dettol kemudian muncul sebagai solusi untuk melawan 'pria toksik yang seperti bakteri'.
Alih-alih diterima sebagai kritik sosial, iklan ini justru memicu kecaman luas. Banyak warganet China menilai pesan yang disampaikan ambigu dan kontraproduktif. Sejumlah pengguna Weibo, platform mirip X, menulis komentar pedas seperti 'iklan sampah' hingga 'saya tidak akan pernah pakai Dettol lagi'. Tagar boikot Dettol pun sempat menjadi perbincangan hangat.
Menanggapi reaksi negatif, Dettol merilis pernyataan resmi pada Senin lalu. Perusahaan mengakui bahwa iklan tersebut telah menyinggung banyak pihak, terutama perempuan. "Kami bertanggung jawab atas kelalaian dalam pembuatan dan peninjauan konten iklan ini," tulis Dettol. Mereka juga berjanji akan mengevaluasi ulang proses moderasi konten ke depannya.
Manya Koetse, pengamat media sosial China yang menjalankan newsletter Eye on Digital China, menilai kampanye ini sebagai 'kekacauan bagi merek yang seluruh bisnisnya berputar pada kebersihan'. Menurutnya, meskipun niat awal mungkin baik, eksekusi yang buruk membuat pesan justru menjadi bumerang.
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pelajaran berharga. Pasar Indonesia juga dikenal sensitif terhadap isu gender dan representasi dalam iklan. Beberapa tahun lalu, iklan sabun Lifebuoy sempat menuai kritik karena dianggap menstigmatisasi keringat. Merek global perlu lebih cermat dalam menyelaraskan pesan kampanye dengan nilai lokal agar tidak terulang kasus serupa.
Ke depan, Dettol harus bekerja keras memulihkan citra di China. Pertanyaannya, apakah permintaan maaf dan janji evaluasi cukup untuk mengembalikan kepercayaan konsumen yang sudah terlanjur kecewa? Ataukah ini akan menjadi titik balik bagi merek untuk lebih mendengarkan suara publik sebelum meluncurkan kampanye kontroversial?



