Partikel Radioaktif Fukushima Tersebar Lebih Luas dari Perkiraan, Studi Ungkap Jalur Sebaran
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengidentifikasi jalur sebaran partikel sesium radioaktif dari bencana Fukushima 2011 yang mencapai Tokyo, mengoreksi asumsi sebelumnya tentang area kontaminasi.
- Partikel mikro berbentuk bola ini tidak larut dalam air dan dapat bertahan di paru-paru jika terhirup, menjadi ancaman kesehatan jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami.
- Temuan ini mendorong pengembangan metode dekontaminasi yang lebih akurat dan pedoman penanganan bencana nuklir yang lebih responsif terhadap distribusi partikel.

Sebuah studi kolaboratif antara Universitas Tsukuba dan Universitas Nasional Taiwan berhasil memetakan rute penyebaran partikel mikro kaya sesium (CsMPs) yang dilepaskan saat bencana nuklir Fukushima Daiichi 2011. Temuan ini mengungkap bahwa partikel berbahaya tersebut tidak hanya terkonsentrasi di barat laut pembangkit, melainkan terbawa hingga ke Tokyo dan area luas Prefektur Fukushima.
CsMPs adalah partikel sferis berdiameter beberapa mikrometer yang terbentuk ketika bahan bakar nuklir bersuhu tinggi meleleh hingga ke lantai reaktor dan mengubah komponen beton menjadi seperti kaca, membungkus material radioaktif di dalamnya. Sifatnya yang tidak mudah larut dalam air membuat partikel ini sulit dibersihkan dan berpotensi menetap di paru-paru jika terhirup, meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang.
Tim peneliti mengembangkan metode baru untuk menghitung jumlah CsMPs dalam sampel tanah yang diambil dari 100 lokasi di Fukushima segera setelah kecelakaan. Hasilnya, konsentrasi tertinggi ditemukan di barat laut dan barat daya pembangkit, dengan jumlah mencapai 52 partikel per gram tanah. Di beberapa titik, hingga 60% radioaktivitas tanah berasal dari partikel ini.
Dengan menggabungkan data sampel dan simulasi aliran udara (plume radioaktif), peneliti menemukan bahwa pelepasan partikel skala besar dimulai pada dini hari 15 Maret 2011. Awan radioaktif yang membawa CsMPs bergerak searah jarum jam dari pembangkit ke selatan, lalu barat daya, dan akhirnya ke barat laut, menjangkau Tokyo. Sebaliknya, plume yang dilepaskan setelah tengah malam 16 Maret tidak lagi mengandung CsMPs, melainkan sesium dalam bentuk yang mudah larut.
Menurut Satoshi Utsunomiya, profesor ilmu lingkungan dari National Taiwan University, keberhasilan mengidentifikasi kapan dan di mana partikel terbentuk serta kapan pembentukannya berhenti merupakan langkah maju yang signifikan. βTemuan ini akan membantu upaya dekontaminasi yang lebih sesuai dengan kondisi nyata dan menyusun pedoman respons bencana nuklir yang lebih baik,β ujarnya. Sementara itu, Shinya Yamasaki, asisten profesor kimia analitik di Universitas Tsukuba, menekankan bahwa peta radiasi konvensional tidak selalu mencerminkan distribusi CsMPs, sehingga diperlukan pendekatan baru dalam pemantauan.
Bagi Indonesia, yang juga memiliki beberapa reaktor nuklir riset dan berencana mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir, studi ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi risiko kecelakaan nuklir. Kemampuan partikel radioaktif untuk menyebar jauh melampaui zona darurat langsung menuntut sistem deteksi dini dan protokol evakuasi yang lebih komprehensif. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dapat memanfaatkan temuan ini untuk memperbarui rencana kedaruratan nuklir nasional, terutama dalam hal pemantauan partikel mikro yang tidak mudah terdeteksi oleh alat ukur radiasi biasa.
Studi yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials ini membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang dampak kesehatan jangka panjang dari paparan CsMPs. Pertanyaan yang masih mengemuka adalah: seberapa efektif metode dekontaminasi yang ada dalam menghilangkan partikel-partikel ini dari lingkungan, dan bagaimana cara melindungi masyarakat dari risiko inhalasi yang mungkin baru terasa puluhan tahun kemudian?



