Langka di Puncak Tenis: Perjalanan Pelatih Perempuan Menembus Dominasi Pria
Baca dalam 60 detik
- Hanya empat pemain top 50 WTA yang memiliki pelatih utama perempuan, meski tenis mengklaim kesetaraan gender.
- Program Inklusi Pelatih WTA sejak 2021 berhasil meningkatkan jumlah pelatih perempuan bersertifikat dari 4 menjadi 34 dalam tiga tahun.
- Kurangnya panutan dan stereotip gender masih menjadi hambatan utama bagi pelatih perempuan untuk menembus level elite.

Kemenangan Mirra Andreeva di Prancis Terbuka 2025 menjadi pengingat bahwa pelatih perempuan masih merupakan pemandangan langka di kotak pelatih turnamen tenis dunia. Andreeva, yang dibimbing oleh Conchita Martinez—mantan juara Wimbledon—menjadi petenis pertama yang dilatih perempuan yang memenangi Grand Slam sejak Garbine Muguruza di Wimbledon 2017. Namun, di balik sorotan kemenangan itu, fakta pahit masih membayangi: hanya empat dari 50 petenis putri teratas dunia yang memiliki pelatih utama perempuan.
Ketidakseimbangan ini kontras dengan citra tenis sebagai olahraga yang menjunjung kesetaraan gender. Di turnamen-turnamen besar, kamera televisi kerap menyorot kotak pelatih, namun yang terlihat hampir selalu wajah-wajah pria. Data WTA menunjukkan bahwa pada 2017, hanya 6% pelatih terdaftar di sirkuit putri adalah perempuan. Angka itu memang naik menjadi 19% pada 2026, tetapi masih jauh dari kata setara.
Sandra Zaniewska, pelatih Marta Kostyuk yang kini berada di peringkat 13 dunia, mengakui bahwa lanskap mulai berubah. Namun, ia juga menyoroti hambatan struktural yang masih membelenggu. "Perempuan, ketika selesai bermain, biasanya berpikir untuk memulai keluarga dan bepergian lebih sedikit," ujarnya. "Jika saya punya anak, saya yakin tidak akan bepergian." Zaniewska menambahkan bahwa faktor lain adalah kebutuhan akan hitting partner—peran yang hampir secara eksklusif diisi oleh pria. Banyak pemain tidak mampu membawa pelatih dan hitting partner sekaligus, sehingga mereka memilih pelatih pria yang dianggap bisa merangkap kedua peran tersebut.
Faktor psikologis juga turut berperan. Zaniewska mengamati bahwa pelatih perempuan sering dinilai tidak percaya diri karena cara mereka mengekspresikan keyakinan berbeda. "Kami lebih banyak berpikir, jadi lebih sadar akan segala hal. Kami benar-benar ingin memastikan sebelum memberi nasihat. Itu kadang terlihat sebagai rasa tidak aman," katanya. Padahal, kepercayaan diri yang tenang justru menjadi kekuatan Martinez dalam membimbing Andreeva. "Dia memahami saya lebih dari siapa pun," ujar Andreeva setahun sebelum kemenangannya di Roland Garros. "Dia pernah melalui semua ini. Dia juga seorang perempuan. Dia sangat berpengalaman. Dia juara Grand Slam."
Kurangnya panutan menciptakan lingkaran setan. Fran Jones, pelatih asal Inggris, mengaku sempat "terkotak-kotakkan" hanya melatih kelompok usia di bawah 14 tahun tanpa sadar ada peluang di level lebih tinggi. "Anda tidak melihat banyak pelatih perempuan di tur. Banyak pria dengan level bermain saya menjadi pelatih, tapi sebagai perempuan dengan level yang sama, mereka tidak ada di tur," katanya. Hal ini sejalan dengan pepatah legenda Billie Jean King: "Jika Anda tidak bisa melihatnya, Anda tidak bisa menjadi dirinya."
Untuk memutus lingkaran itu, WTA meluncurkan Program Inklusi Pelatih pada 2021. Program ini bekerja sama dengan federasi nasional untuk mengembangkan pelatih perempuan, memberikan koneksi dan kepercayaan diri. Jaslyn Hewitt-Shehadie, yang memimpin konten program, menjelaskan bahwa banyak pelatih perempuan terjebak di level klub junior tanpa dorongan untuk naik kelas. Lauren English, salah satu lulusan program, mengatakan bahwa program itu memberinya "peta langkah" dan "keberanian" untuk mengejar peluang yang lebih besar.
Namun, Zaniewska mengingatkan bahwa tujuan akhir bukanlah membuktikan pelatih perempuan lebih baik, melainkan memberi mereka kesempatan yang sama. "Beberapa pemain putri akan lebih cocok dengan pelatih pria, beberapa dengan pelatih perempuan. Pada akhirnya, ini soal kecocokan kepribadian," tuturnya. Pertanyaan besarnya: akankah dalam satu dekade ke depan, kotak pelatih di Wimbledon atau Roland Garros mulai menampilkan lebih banyak wajah perempuan? Ataukah hambatan kultural dan struktural akan terus memperlambat perubahan?



