Kekacauan di Balik Layar: Bonus, Kontrak, dan Makanan Bayangi Perjuangan Senegal di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Timnas Senegal terancam gagal lolos dari fase grup setelah dua kekalahan, diperburuk oleh kisruh internal soal bonus pemain yang baru dibayar pemerintah beberapa hari lalu.
- Negosiasi kontrak pelatih Pape Thiaw berlarut-larut hingga melibatkan presiden, berujung pada kenaikan gaji signifikan namun meninggalkan luka soal prinsip dan rasa hormat.
- Perselisihan soal makanan dan akomodasi, yang sebenarnya bukan dari pemain, serta pembatasan tiket untuk diaspora Senegal di AS, menambah daftar panjang gangguan non-teknis.

Senegal, yang datang ke Piala Dunia keempat mereka dengan ambisi menembus babak perempat final seperti debut gemilang 2002, justru terpuruk di dasar klasemen tanpa satu poin pun. Dua kekalahan beruntun dari Prancis dan Norwegia membuat skuad asuhan Pape Thiaw harus mengalahkan Irak pada laga pamungkas Jumat nanti untuk menjaga asa. Namun, di luar lapangan, serangkaian masalah internal mulai dari bonus yang tertunda, sengketa kontrak pelatih, hingga keluhan soal makanan telah mendominasi pemberitaan dan menimbulkan kekhawatiran akan fokus tim.
Kisruh paling mencolok adalah soal bonus pemain yang tak kunjung dibayarkan. Pemerintah Senegal akhirnya turun tangan dan mencairkan bonus tersebut beberapa hari lalu, setelah tekanan publik dan media meningkat. Pelatih Thiaw mengakui adanya "kerusakan" dalam manajemen, namun menegaskan bahwa tim tetap fokus pada pertandingan. "Ada beberapa masalah yang perlu dirapikan, tapi kami semua profesional dan prioritas kami adalah mewakili negara," ujarnya dalam konferensi pers.
Tak hanya bonus, kontrak Thiaw sendiri menjadi sumber ketegangan. Pelatih berusia 44 tahun itu awalnya menerima gaji sekitar £210.000 per tahun saat ditunjuk pada 2024. Namun, setelah membawa Senegal ke final Piala Afrika 2025, ia memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Negosiasi perpanjangan kontrak molor berbulan-bulan, diperumit oleh gejolak politik di Senegal—pembubaran pemerintah dan pemecatan perdana menteri. Presiden Bassirou Diomaye Faye bahkan harus turun tangan langsung setelah ada ancaman Thiaw mogok berangkat ke Amerika Serikat. Kesepakatan akhirnya tercapai dengan kenaikan gaji menjadi £480.000 per tahun plus bonus tahunan £80.000. "Ini bukan soal uang, tapi prinsip dan rasa hormat. Kini semua sudah selesai," kata Thiaw.
Masalah lain yang mencuat adalah soal makanan. Tim membawa koki sendiri yang telah menyusun menu berbulan-bulan sebelumnya, namun ia harus pulang karena alasan pribadi setelah laga uji coba. Koki pengganti tidak menuai keluhan dari pemain. Justru anggota delegasi lain—bukan pemain atau staf pelatih—yang kecewa karena makanan khas Senegal tidak tersedia. Beberapa pejabat Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) bahkan memesan makanan dari luar. Kehadiran keluarga pejabat dan pemain di hotel terdekat juga menimbulkan gesekan internal.
Di luar itu, diaspora Senegal di Amerika Serikat dan Kanada mengeluhkan alokasi tiket yang hanya 400 lembar dan distribusi yang tidak transparan. Pada Minggu lalu, perwakilan asosiasi masyarakat Senegal berunjuk rasa di depan hotel tim untuk menyuarakan protes. Jurnalis Canal+ Babacar Diarra, yang meliput timnas Senegal selama lebih dari satu dekade, mengatakan situasi seperti ini sudah lama tidak terjadi. "Dulu ada masalah bonus, tapi tidak sampai ke publik. Saya tidak kaget. Bahkan saat Afcon, di permukaan tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya ada kekacauan," ujarnya.
Dengan segala hiruk-pikuk di luar lapangan, pertanyaan besarnya adalah apakah Senegal mampu bangkit dan meraih kemenangan mutlak atas Irak. Tekad pemain dan pelatih mungkin kuat, namun sejarah membuktikan bahwa gangguan non-teknis seringkali menjadi bumerang di turnamen sebesar Piala Dunia. Mampukah Singa Teranga mengatasi badai internal dan menjaga asa ke babak gugur?



