Siswa Rugbi Pingsan Dicekik: Sekolah di Osaka Baru Laporkan Kasus Perundungan Dua Bulan Kemudian
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemain rugbi SMA di Osaka kehilangan kesadaran setelah dicekik dari belakang oleh rekan setim usai latihan, namun pelatih tidak memanggil ambulans karena korban sadar kembali.
- Sekolah menetapkan insiden itu sebagai 'kasus serius' berdasarkan undang-undang anti-perundungan Jepang pada Februari 2026, dua bulan setelah kejadian, dan melaporkannya ke kementerian pendidikan.
- Pelaku mengaku tidak tahu alasan melakukan aksi tersebut, dan sekolah menyatakan tidak menemukan kekerasan harian atau masalah berkelanjutan di tim rugbi.

Seorang pemain rugbi SMA di Hirakata, Prefektur Osaka, Jepang, sempat kehilangan kesadaran setelah dicekik dari belakang oleh rekan setimnya seusai latihan pada 31 Desember 2025. Insiden yang menimpa siswa kelas tiga itu baru diklasifikasikan sebagai 'kasus serius' oleh pihak sekolah pada Februari 2026, berdasarkan Undang-Undang Anti-Perundungan Jepang.
Menurut keterangan sekolah dan sumber terkait, peristiwa terjadi di dalam area sekolah setelah latihan usai. Korban dicekik dari belakang oleh rekannya hingga pingsan dan terjatuh, kepalanya terbentur. Pelatih yang menyaksikan kejadian memutuskan tidak memanggil layanan darurat karena korban segera sadar kembali. Namun, dalam perjalanan pulang bersama orang tua yang ditelepon sekolah, korban mengeluh tidak enak badan dan kemudian didiagnosis mengalami gegar otak serta kondisi lain di fasilitas medis.
Sekolah mengetahui insiden itu pada hari yang sama. Pelaku, yang juga siswa kelas tiga, mengaku 'tidak tahu alasan' melakukan aksi tersebut. Setelah mewawancarai korban dan siswa lain serta menyebarkan kuesioner ke seluruh anggota tim, sekolah menyimpulkan bahwa 'tidak ada kekerasan sehari-hari atau masalah berkelanjutan yang terkonfirmasi.' Meski demikian, karena korban sempat kehilangan kesadaran, sekolah menetapkan kasus ini sebagai insiden serius pada Februari 2026 dan melaporkannya ke Kementerian Pendidikan serta Pemerintah Prefektur Osaka.
Sekolah yang dikenal sebagai gudang pemain rugbi itu tengah mengikuti turnamen rugbi SMA nasional saat insiden terjadi. Tim mencapai perempat final dan bertanding di Stadion Rugbi Hanazono, Higashiosaka, pada 1 dan 3 Januari 2026. Sekolah beralasan tetap berpartisipasi karena 'masih dalam proses konfirmasi detail' kasus pencekikan tersebut. Kedua siswa yang terlibat tidak dimainkan dalam pertandingan.
Dalam pernyataannya, sekolah mengaku 'menganggap serius insiden ini dan merenungkannya,' serta berjanji akan memperkuat manajemen keselamatan siswa dan meninjau prosedur respons awal untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Pelatih yang gagal memanggil layanan darurat mendapat teguran keras dan pembinaan dari sekolah.
Kasus ini menyoroti celah dalam penanganan insiden kekerasan di lingkungan sekolah Jepang, terutama ketika korban sempat sadar dan tidak menunjukkan gejala langsung. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi di sekolah-sekolah berasrama atau klub olahraga, di mana budaya senioritas dan tekanan untuk menang sering menutupi praktik perundungan. Pertanyaan yang muncul: apakah prosedur pelaporan dan respons awal di sekolah-sekolah Indonesia sudah cukup melindungi siswa dari kekerasan tersembunyi?



