Crocker vs Paro: Duel Juara Bertahan di Kandungan Lawan, Sejarah dan Masa Depan Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- Lewis Crocker mempertaruhkan sabuk IBF kelas welter di Brisbane, Australia, melawan penantang wajib Liam Paro yang didukung publik tuan rumah.
- Paro berpeluang menjadi petinju Australia kedua setelah Jeff Fenech yang juara di dua kelas berbeda, sementara Crocker membidik laga besar melawan nama-nama top.
- Pertarungan ini menjadi ujian adaptasi bagi Crocker yang berganti pelatih, serta momentum bagi Paro untuk membuktikan diri di kelas welter.

Lewis Crocker, petinju asal Belfast yang baru setahun menyandang sabuk IBF kelas welter, harus menjalani laga pertama mempertahankan gelar di hadapan publik musuh. Bukan di kandang sendiri, ia akan menghadapi Liam Paro, penantang wajib asal Australia, di Brisbane, Rabu (16/4/2025). Pertaruhan bukan sekadar sabuk, melainkan juga peluang menuju laga-laga besar di divisi yang penuh bintang.
Crocker merebut gelar IBF pada September 2024 setelah mengalahkan Paddy Donovan dalam duel ulangan di Windsor Park, Belfast. Kemenangan itu membawanya ke rekor 22-0 (11 KO). Namun, alih-alih menikmati pertahanan pertama di rumah, ia harus terbang ke belahan bumi lain. Promotor Australia No Limit memenangi lelang tawaran dengan selisih tipis 27.000 dolar AS (sekitar Rp430 juta) mengalahkan Matchroom, promotor Crocker. Hasilnya, Paro mendapat hak tampil di negara bagian asalnya, Queensland.
Paro sendiri bukan lawan sembarangan. Ia pernah mengejutkan dunia dengan merebut gelar IBF kelas welter ringan dari Subriel Matias di Puerto Riko pada Juni 2024, meski kemudian kehilangan sabuk itu enam bulan kemudian saat dikalahkan Richardson Hitchens. Kini ia naik ke kelas welter dan langsung mendapat kesempatan merebut gelar di hadapan pendukung sendiri. “Menjadi bagian dari nama Jeff Fenech—petinju terbesar Australia—adalah sesuatu yang membanggakan,” ujar Paro, merujuk pada satu-satunya petinju Australia yang juara di tiga divisi berbeda.
Crocker, 29 tahun, mengaku tidak asing dengan peran underdog. Saat melawan Donovan, ia juga dianggap akan kalah. “Paro adalah favorit di sini, semua orang datang untuk melihatnya. Itu sedikit mengurangi tekanan dari pikiran saya,” kata Crocker. Ia mengandalkan pukulan kiri yang menjadi senjata andalan, seperti yang menjatuhkan Donovan di ronde kedelapan. Namun, Paro juga punya kecepatan dan tipuan dari kuda-kuda kidal yang menyulitkan lawan. Dalam debutnya di kelas welter melawan David Papot, Paro menang meski matanya bengkak setelah 12 ronde.
Perubahan signifikan terjadi di sudut Crocker. Ia kini dilatih Huzaifah Iqbal menggantikan Billy Nelson. Adaptasi gaya bertarung menjadi kunci. Pada duel ulangan melawan Donovan, Crocker lebih banyak bergerak dan melakukan serangan balik, berbeda dengan gaya adu jotos di pertemuan pertama. Paro pun waspada. “Dua pertarungan terakhirnya menunjukkan ia bisa mengubah rencana permainan secara signifikan. Kami harus siap untuk apa pun,” ucap Paro.
Bagi Crocker, laga ini adalah batu loncatan. “Saya harus mengalahkan mantan juara dunia di sini, dan setelah itu pintu akan terbuka lebar,” katanya. Kemenangan akan membawanya ke laga-laga besar melawan Conor Benn, Devin Haney, atau petinju top lainnya di divisi welter yang sedang ramai. Namun, jalan menuju ke sana tidak mudah. Paro juga termotivasi untuk menjadi juara dua kelas dan menuliskan namanya dalam sejarah tinju Australia.
Pertarungan ini bukan sekadar perebutan sabuk. Bagi Crocker, ini ujian mental dan fisik di luar zona nyaman. Bagi Paro, ini kesempatan membuktikan bahwa dirinya layak disebut pewaris Fenech. Siapa pun yang menang, satu hal pasti: pemenang akan melangkah ke panggung yang lebih besar, sementara yang kalah harus memulai dari awal lagi.



