Inggris Bangkit di Hari Pertama, Kenangan 2022 Menghantui Selandia Baru
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru unggul 361-4 pada hari pertama tes ketiga di Trent Bridge, namun Inggris merebut empat gawang di sesi akhir.
- Asisten pelatih Inggris, Tim Southee, mengingatkan bahwa kenangan kekalahan 2022 di tempat yang sama masih membekas di benak pemain Kiwi.
- Inggris membutuhkan kemenangan seri untuk keluar dari tren buruk, sementara Selandia Baru berpeluang menjadi tim tamu pertama yang memenangi seri tiga tes di Inggris sejak 2012.

Kenangan akan keajaiban Trent Bridge 2022 kembali menghantui Selandia Baru saat mereka memulai hari pertama tes ketiga melawan Inggris di Nottingham, Kamis (28/11). Meskipun unggul berkat opening stand 317 run antara Tom Latham dan Devon Conway, tim tamu kehilangan empat gawang di sesi akhir dan hanya mampu menutup hari dengan skor 361-4.
Empat tahun lalu, di tempat yang sama, Inggris mencatat kemenangan dramatis setelah mengejar target 299 run dalam waktu singkat berkat Jonny Bairstow yang melesakkan 136 dari 92 bola. Kemenangan itu menjadi kelahiran gaya "Bazball" yang agresif. Kini, asisten pelatih Inggris Tim Southee—yang saat itu masih menjadi pemain Selandia Baru—percaya bahwa kenangan pahit itu masih membekas di benak beberapa pemain Kiwi yang masih bertahan.
"Ketika Anda memiliki pemain yang terlibat dalam pertandingan itu, mungkin ada beberapa orang di ruang ganti Selandia Baru yang mengingatnya," ujar Southee. "Itu selalu ada di memori. Kita lihat bagaimana kelanjutannya."
Lima dari sebelas pemain Selandia Baru yang tampil pada tes 2022 masih bermain pekan ini, sementara tiga lainnya menjadi bagian dari skuad tur. Namun, asisten pelatih Selandia Baru Luke Ronchi menepis anggapan bahwa kenangan itu akan mempengaruhi jalannya pertandingan. "Tim ini sangat berbeda dengan 2022. Permainannya berbeda, permukaannya berbeda. Itu sudah empat tahun lalu," tegas Ronchi.
Hari pertama berlangsung di bawah terik matahari, dan Inggris membayar mahal karena kalah toss. Latham (151) dan Conway (157) memanfaatkan kondisi lapangan yang sempurna untuk batting. Namun, Inggris bangkit di sesi akhir dengan dua gawang dalam tujuh bola—Rachin Ravindra dan Henry Nicholls pulang di dua bola terakhir hari itu—memberi harapan bagi tuan rumah.
Inggris tengah tertekan setelah hanya memenangi dua dari sembilan tes terakhir, ditambah kontroversi klub malam yang melibatkan kapten Ben Stokes dan bowler Gus Atkinson. Stokes sendiri mengakui tekanan yang dihadapi timnya saat ini adalah yang terbesar selama empat tahun kepemimpinannya. Kemenangan seri menjadi harga mati untuk memulihkan kepercayaan publik.
Southee optimistis Inggris bisa membalikkan keadaan. "Tes kriket dimainkan selama lima hari. Kami duduk di sini di hari pertama dengan Selandia Baru empat gawang jatuh, dua batsman baru besok, nightwatchman di satu ujung, dan bola baru di tangan. Ini saat yang menarik untuk memasuki hari kedua," katanya.
Bagi Selandia Baru, peluang menjadi tim tamu pertama yang memenangi seri tiga tes atau lebih di Inggris sejak 2012 masih terbuka lebar. Namun, kenangan 2022 dan kebangkitan Inggris di sesi akhir hari pertama menjadi pengingat bahwa pertandingan belum selesai. Mampukah Inggris mengulang keajaiban Trent Bridge, atau justru Selandia Baru yang akhirnya memutus kutukan?