Diane Warren Kenang Clive Davis: Kepergianmu Seperti Kehilangan Ayahku
Baca dalam 60 detik
- Legenda musik Clive Davis tutup usia di Manhattan pada 22 Juni 2026 akibat penyakit terkait usia.
- Penulis lagu Diane Warren menyebut Davis sebagai figur ayah yang tak pernah berhenti percaya padanya.
- Keluarga Davis mengenangnya sebagai pribadi yang mengutamakan keluarga di tengah pencapaian gemilang.

Dunia musik kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh. Clive Davis, eksekutif musik legendaris yang membidani karier puluhan artis papan atas, meninggal dunia pada Senin (22/6/2026) di kediamannya di Manhattan. Ia berusia 94 tahun dan disebutkan wafat secara damai akibat penyakit terkait usia.
Kepergian Davis meninggalkan duka mendalam, terutama bagi penulis lagu tersohor Diane Warren. Dalam unggahan emosional di media sosial, Warren, 69 tahun, menyamakan kehilangan ini seperti kehilangan ayah kandungnya. “Kau selalu menjadi keluarga bagiku. Ayahku yang pertama percaya padaku, tapi kaulah yang tak pernah berhenti percaya,” tulisnya. Ia mengenang bagaimana Davis kerap memaksakan lagu-lagunya direkam oleh artis-artisnya, bahkan ketika mereka enggan.
Warren, yang menerima Oscar kehormatan pada 2022, menekankan bahwa Davis adalah sosok yang mengutamakan perasaan di atas angka dan data. “Kau tidak peduli pada hitungan dan data. Satu-satunya data yang berarti adalah bagaimana sebuah lagu membuatmu merasa,” kenangnya. Tanpa Davis, kata Warren, kariernya tak akan seperti sekarang.
Keluarga Davis, dalam pernyataan resmi, menggambarkannya sebagai sosok ayah dan kakek yang menjadi pusat kehidupan mereka. “Tak peduli seberapa luar biasa pencapaian profesionalnya, ia tak pernah melupakan hal terpenting: orang-orang yang dicintainya,” tulis mereka. Keluarga juga menyoroti bahwa Davis selalu menjadikan keluarga sebagai kebanggaan dan kebahagiaan terbesarnya.
Bagi industri musik Indonesia, kepergian Davis menjadi pengingat akan pentingnya sentuhan manusia dalam bisnis kreatif. Di era di mana algoritma dan data streaming kerap menjadi tolok ukur, Davis adalah figur yang mengedepankan naluri dan emosi. Banyak musisi Tanah Air yang mengidolakan pendekatannya, termasuk mereka yang pernah berkolaborasi dengan label-label bentukan Davis. Kehilangan ini sekaligus menutup satu era kepemimpinan visioner yang langka.
Warren mengakhiri pesannya dengan harapan bahwa Davis akan menemukan suara-suara indah di surga. “Beristirahatlah dengan tenang, sahabatku. Aku yakin akan ada suara-suara hebat yang menunggumu di sana,” tulisnya. Pertanyaan yang kini menggantung: siapakah yang mampu meneruskan warisan Davis dalam menemukan dan membina bakat-bakat baru di industri musik global?



