Air Mata dan Pelukan: Rekonsiliasi Emosional Art Garfunkel dengan Paul Simon Setelah Dekade Ketegangan
Baca dalam 60 detik
- Art Garfunkel mengungkap pertemuan makan malam yang mengharukan dengan Paul Simon tahun lalu, diakhiri dengan tangisan dan pelukan.
- Duo Simon and Garfunkel, yang telah menjual lebih dari 100 juta rekaman, sempat retak akibat ketidakseimbangan peran dan jadwal syuting film.
- Garfunkel kini fokus pada tur dan masa depan, meski mengakui warisan musiknya akan selalu terikat dengan Simon.

Lebih dari setengah abad setelah suara harmonis mereka mengguncang dunia, Art Garfunkel dan Paul Simon akhirnya menemukan titik damai. Dalam sebuah wawancara dengan People, Garfunkel yang kini berusia 84 tahun menceritakan pertemuan makan malam yang emosional dengan mantan partner duetnya itu, diakhiri dengan air mata dan pelukan yang menghapus sisa-sisa ketegangan masa lalu.
"Kami makan malam tahun lalu. Sangat indah. Ada air mata, ada pelukan," ujar Garfunkel. Meski demikian, ia tidak yakin apakah momen tersebut akan berujung pada kolaborasi baru. "Saya tidak tahu apakah ini akan menghasilkan sesuatu. Saya tidak terlalu memikirkannya, saya lebih memikirkan apa yang ada di depan," tambahnya, menegaskan fokusnya pada tur "What a Wonderful World" yang berlangsung hingga November.
Simon and Garfunkel adalah salah satu duo paling ikonik sepanjang masa, dengan penjualan lebih dari 100 juta rekaman dan lagu-lagu abadi seperti "The Sound of Silence", "Mrs. Robinson", "The Boxer", dan "Bridge Over Troubled Water". Namun, di balik kesuksesan itu, hubungan mereka diwarnai pasang surut. Perpecahan dimulai pada 1970, dipicu oleh keputusan Garfunkel menerima peran dalam film Catch-22 arahan Mike Nichols, yang membuat Simon merasa ditinggalkan dan menciptakan "ketidakseimbangan kekuasaan" yang oleh Simon sendiri disebut sebagai "resep perpisahan".
Meski secara resmi bubar pada 1970, mereka beberapa kali bersatu kembali, termasuk konser monumental di Central Park pada 1981 yang dianggap Garfunkel sebagai "malam terbaik dalam hidup saya". Namun, hubungan mereka tetap renggang, dengan Garfunkel menggambarkannya sebagai "musim panas dan musim dingin" yang silih berganti. Kini, setelah melewati masa pemulihan pita suara yang sempat mengancam kariernya, Garfunkel memilih untuk tidak larut dalam nostalgia. "Kamu tidak bisa hidup dari masa lalu. Kamu harus terus berjalan dengan agenda yang bermakna," katanya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah rekonsiliasi ini mengingatkan pada dinamika duo legendaris lain yang juga mengalami pasang surut, seperti The Beatles atau bahkan grup lokal. Namun, yang membedakan Simon and Garfunkel adalah kemampuan mereka untuk tetap produktif secara individu dan sesekali bersatu kembali, menciptakan momen magis yang melampaui waktu. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah setelah pertemuan penuh air mata ini akan lahir lagi karya baru dari dua legenda yang telah berdamai dengan masa lalu mereka?



