Olivia Rodrigo Wujudkan Mimpi, Gelar Festival Musik Khusus Perempuan di California
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Olivia Rodrigo meluncurkan festival Daisy Chain Fields pada 29 Agustus di California, dengan lineup seluruhnya perempuan.
- Seluruh keuntungan bersih festival disumbangkan ke organisasi nirlaba yang mendukung perempuan dan anak perempuan, seperti Planned Parenthood dan National Womenโs Law Center.
- Para artis yang tampil tidak menerima bayaran, menegaskan komitmen festival terhadap filantropi dan pemberdayaan perempuan.

Olivia Rodrigo akhirnya mewujudkan ambisi lamanya: menggelar festival musik sendiri yang seluruhnya diisi oleh perempuan. Bertajuk Daisy Chain Fields, acara ini akan berlangsung pada 29 Agustus di California, menghadirkan nama-nama seperti Chappell Roan dan KATSEYE. Lebih dari sekadar panggung hiburan, Rodrigo memastikan bahwa 100 persen keuntungan bersih dari penjualan tiket akan disalurkan ke sejumlah lembaga amal yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.
Dalam unggahan di Instagram, pelantun "Drivers License" itu mengungkapkan kegembiraannya. "Saya sudah memimpikan festival ini selama bertahun-tahun, dan akhirnya menjadi kenyataan," tulisnya. Ia menambahkan bahwa festival ini adalah bentuk keyakinannya bahwa kegembiraan, komunitas, dan musik dapat menjadi motor perubahan yang berarti. Para penggemar yang ingin mendapatkan akses pra-penjualan dapat mendaftar melalui situs resmi festival.
Rodrigo menegaskan bahwa tidak ada satu pun artis yang tampil akan menerima bayaran. "Semua artis yang berpartisipasi tidak mengambil untung," katanya kepada Pitchfork. Menurutnya, saat ini dunia membutuhkan sesuatu yang positif, dan anak-anak perempuan memerlukan panutan yang saling mendukung. Ia berharap festival ini menjadi ajang yang penuh kegembiraan, musik, dan semangat kebersamaan.
Keuntungan bersih festival akan disumbangkan ke beberapa organisasi, termasuk Johns Hopkins Center for Indigenous Health, Planned Parenthood, dan National Womenโs Law Center. Langkah ini menegaskan komitmen Rodrigo terhadap isu-isu sosial yang selama ini ia perjuangkan. Bagi sang penyanyi, festival ini bukan sekadar proyek musik, melainkan panggilan hidup. "Saya merasa ini adalah panggilan saya dengan cara yang aneh," ujarnya.
Di sisi lain, Rodrigo juga jujur tentang dampak ketenaran terhadap perkembangan pribadinya. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia mengaku bahwa tumbuh di bawah sorotan publik membuatnya merasa "stunted" dalam beberapa aspek. "Tidak ada yang bisa sempurna. Saya merasa sangat dewasa dalam beberapa hal, tetapi sangat terhambat di hal lain karena cara saya tumbuh," ungkapnya. Ia pun mempertanyakan bagaimana ia bisa belajar jika tidak diperbolehkan membuat kesalahan dalam privasi hidupnya sendiri.
Bagi penggemar di Indonesia, festival ini bisa menjadi inspirasi bahwa musik dapat menjadi alat untuk perubahan sosial. Meski belum ada rencana perluasan ke Asia, semangat pemberdayaan perempuan yang diusung Rodrigo relevan dengan gerakan serupa di Tanah Air. Pertanyaan selanjutnya: akankah festival seperti ini menginspirasi musisi Indonesia untuk menginisiasi acara serupa yang berorientasi pada filantropi dan pemberdayaan?



