Tuchel Bebaskan 'Musik' Inggris: Kemenangan atas Ghana Kunci Lolos ke Fase Gugur
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Thomas Tuchel mendorong pemain Inggris bermain bebas tanpa beban, terinspirasi analogi seorang konduktor yang tak ingin mengganggu musik para musisinya.
- Kemenangan 4-2 atas Kroasia di laga perdana Grup L menunjukkan performa terbaik era Tuchel, dengan Declan Rice menyebut 45 menit kedua sebagai tolok ukur.
- Laga melawan Ghana di Boston, Selasa (24/6), menjadi penentu: jika menang, Inggris dipastikan lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Thomas Tuchel tak ingin menjadi konduktor yang mengganggu harmoni orkestranya. Pelatih asal Jerman itu justru memilih membiarkan para pemain Inggris mengalunkan irama mereka sendiri di lapangan — dan hasilnya, pada laga pembuka Grup L Piala Dunia 2026, Three Lions sukses membungkam Kroasia dengan skor 4-2. Kini, satu kemenangan lagi atas Ghana di Stadion Gillette, Boston, sudah cukup untuk mengamankan tiket ke babak gugur.
Pertandingan melawan Kroasia, yang berlangsung pekan lalu, menjadi titik balik. Sejak mengambil alih tim pada Maret 2025, Tuchel memang telah membawa Inggris meraih rentetan kemenangan, namun belum ada yang semengesankan itu. “Kami tampil dengan kefasihan, koherensi, dan semangat menyerang yang belum pernah terlihat sebelumnya,” ujar Tuchel dalam konferensi pers jelang laga kontra Ghana. Ia mengakui bahwa timnya seperti mencapai puncak performa di momen yang tepat.
Salah satu kunci transformasi ini adalah pendekatan psikologis Tuchel. Ia tidak perlu “memaksa” pemain untuk memiliki pola piju yang tepat karena mereka sudah datang dengan mentalitas itu. “Seorang konduktor terkenal pernah berkata, dia tidak ingin mengganggu musik, dan dia tidak ingin mengganggu para musisi. Itulah yang kami coba lakukan di tim pelatih,” jelasnya. Filosofi ini, menurut Tuchel, mendorong pemain untuk bermain dengan kebebasan, terutama di posisi menyerang.
Declan Rice, gelandang Arsenal yang dipuji Tuchel sebagai “salah satu gelandang terbaik di dunia”, menjadi motor permainan Inggris. Kerja tanpa lelah dan distribusi bola cerdasnya memberi platform bagi para penyerang untuk bersinar. Rice mengakui bahwa performa di babak kedua melawan Kroasia adalah tolok ukur. “Kami percaya jika bisa memulai pertandingan dengan level dan tempo seperti itu sejak menit pertama, kami bisa mengalahkan lawan mana pun di Piala Dunia ini,” tegasnya.
Rice juga tak lupa memuji kapten tim, Harry Kane, yang dianggapnya sebagai striker kelas dunia. “Dia adalah pemain yang bisa kamu ceritakan kepada anak-anakmu nanti bahwa kamu pernah bermain dengannya. Itulah seberapa bagus dia,” ujar Rice. Kane, yang terus menunjukkan ketajaman di Bayern Munich dan timnas Inggris, menjadi ujung tombak yang menakutkan bagi lawan.
Tuchel juga menyinggung soal tekanan yang biasa menghinggapi pemain Inggris, mengingat publik sudah lama haus gelar sejak 1966. Namun, ia yakin skuadnya mampu mengelola ekspektasi tersebut. “Kami memiliki banyak pemenang dan pemain berpengalaman untuk mengatasinya. Prinsip utama kami adalah selalu bermain seolah skor 0-0. Umpan berikutnya, tekel berikutnya, gerakan untuk membantu rekan — itulah yang penting,” katanya. Ia menambahkan bahwa tidak ada lagi rasa takut melakukan kesalahan, karena kesalahan adalah bagian dari sepak bola.
Dengan modal performa impresif dan mentalitas yang tepat, Inggris kini hanya butuh satu langkah lagi untuk memastikan langkah ke fase gugur. Pertanyaan besarnya: bisakah mereka mempertahankan momentum dan konsistensi saat menghadapi Ghana yang pasti akan memberikan perlawanan sengit?



