Petisi Pemulangan Tiga Gajah Malaysia dari Jepang Tembus Parlemen: Lari 290 Km untuk Dara, Amoi, dan Kelat
Baca dalam 60 detik
- Neow Choo Seong menyerahkan memorandum kepada anggota parlemen Wee Ka Siong setelah berlari 290 km dari Taiping ke Kuala Lumpur selama enam hari.
- Tiga gajah bernama Dara, Amoi, dan Kelat dikirim ke Kebun Binatang Tennoji di Osaka pada 11 Maret, dan kini dikhawatirkan kondisinya memburuk.
- Langkah ini diharapkan memicu diskusi parlemen dan tekanan publik untuk memulangkan gajah-gajah tersebut ke Malaysia.

Upaya memulangkan tiga gajah Malaysia yang kini berada di Jepang memasuki babak baru setelah sebuah memorandum resmi diserahkan kepada anggota parlemen di Kuala Lumpur. Dokumen yang mendesak campur tangan pemerintah itu diterima oleh Presiden MCA, Datuk Seri Dr Wee Ka Siong, dari Ketua Biro Urusan Masyarakat Pemuda Barisan Nasional, Neow Choo Seong, pada Senin (23/6).
Penyerahan memorandum menjadi puncak aksi lari tunggal Neow sejauh 290 kilometer yang dimulai dari Kebun Binatang Taiping pada 17 Juni. Selama enam hari, ia melintasi Perak, Selangor, dan Kuala Lumpur untuk membangun kesadaran publik tentang nasib gajah betina Dara, Amoi, dan Kelat yang dititipkan di Kebun Binatang Tennoji, Osaka. โLari ini bukan tentang saya. Ini tentang memberi suara bagi Dara, Amoi, dan Kelat, serta mengingatkan warga Malaysia bahwa mereka bagian dari warisan satwa liar kita,โ ujar Neow dalam keterangannya.
Ketiga gajah tersebut diberangkatkan ke Jepang pada 11 Maret lalu, namun sejak itu muncul kekhawatiran mengenai kesehatan dan kesejahteraan mereka. Neow menekankan bahwa waktu semakin sempit dan masalah ini membutuhkan perhatian segera. โKekhawatiran atas kesehatan dan kesejahteraan mereka terus meningkat, dan kami percaya penderitaan mereka layak mendapat penanganan mendesak,โ tambahnya.
Dr Wee Ka Siong, yang juga anggota parlemen Ayer Hitam, berjanji akan terus mengangkat isu ini di sidang parlemen dan mendesak perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan ketiga gajah. โSaya telah mengikuti perkembangan ini dengan saksama dan memahami kekhawatiran kelompok pecinta satwa serta masyarakat. Saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan masalah ini mendapat perhatian yang layak,โ katanya saat menerima memorandum. Ia juga mengapresiasi peran aktivis dan LSM yang terus mengadvokasi nasib gajah-gajah tersebut.
Dalam etape terakhir lari menuju gedung Parlemen, Neow ditemani sejumlah tokoh publik, antara lain mantan Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin, Senator Ng Keng Heng, mantan anggota parlemen Bangi Ong Kian Ming, aktivis Shereen Yunos, serta pendukung kesejahteraan hewan lainnya. Kehadiran mereka menandai dukungan lintas spektrum politik terhadap kampanye ini.
Bagi Indonesia, kasus ini menyoroti pentingnya pengelolaan satwa yang dikirim ke luar negeri, terutama gajah Sumatera yang kerap menjadi bagian program konservasi atau pertukaran satwa. Meskipun gajah Malaysia berasal dari spesies yang berbeda, isu kesejahteraan satwa di kebun binatang luar negeri tetap relevan. Pemerintah Indonesia sendiri pernah menghadapi polemik serupa terkait satwa yang dikirim ke luar negeri, sehingga pengalaman Malaysia bisa menjadi pelajaran berharga dalam memperkuat regulasi dan pengawasan.
Neow berharap memorandum ini menjadi awal diskusi yang lebih luas antara otoritas terkait dan anggota parlemen mengenai masa depan ketiga gajah. โKami berharap ini menjadi titik awal pembahasan serius tentang kemungkinan pemulangan mereka,โ pungkasnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pemerintah Malaysia mengambil langkah diplomatik untuk membawa pulang Dara, Amoi, dan Kelat sebelum kondisi mereka semakin memprihatinkan?



