Royce Soh, Bocah 12 Tahun yang Raup Rp500 Ribu dari Promosi Mi Buatan Ibunya
Baca dalam 60 detik
- Royce Soh, 12 tahun, menjadi viral setelah mempromosikan warung mi buatan ibunya di TikTok, dengan bayaran Rp500 ribu jika video mencapai 10.000 like.
- Video yang awalnya hanya untuk membeli kartu Pokemon ini sukses mendatangkan lonjakan pelanggan ke warung Greenview Cafe di Singapura.
- Royce bercita-cita menjadi ilmuwan nuklir untuk melindungi Singapura, meski ia mengaku hanya bisa makan mi, bukan membuatnya.

Royce Soh, seorang siswa kelas 6 SD di Singapura, mendadak menjadi bintang media sosial setelah video promosi warung mi buatan ibunya viral di TikTok. Bocah 12 tahun itu hanya ingin uang untuk membeli kartu Pokemon, tetapi kini ia menjadi daya tarik utama warung Greenview Handmade Mee Hoon Kueh yang baru pindah ke Ang Mo Kio.
Video yang diunggah oleh ibunya, Lyn Bong, pada awal Juni 2024 itu menampilkan Royce dengan gaya bicara datar dan ekspresi polos yang langsung mencuri perhatian. Dalam klip tersebut, Royce dengan percaya diri memperkenalkan menu andalan warung, termasuk Mee Hoon Kueh Cincang (S$4,90) dan Mala Stir-fry Mee Hoon Kueh (S$7,50) yang ia akui terlalu pedas untuknya. "Saya dapat S$30 untuk 1.000 like, dan S$50 jika mencapai 10.000 like," ujarnya, menunjukkan jiwa bisnis yang sudah terasah sejak dini.
Video itu kini telah ditonton lebih dari 235.000 kali dan mengumpulkan 11.500 like, memastikan Royce mendapatkan bayaran penuh. Ibunya, Lyn Bong, mengaku tidak menyangka responsnya akan sebesar itu. "Keesokan harinya adalah hari libur nasional, dan antrean pelanggan sangat panjang. Kami kewalahan," kata Bong kepada 8days.sg. Banyak pelanggan yang datang khusus karena melihat video Royce, membuktikan kekuatan pemasaran media sosial yang organik.
Kisah Royce menarik perhatian karena perpaduan antara kepolosan dan kecerdasannya. Meski ia mengaku tidak bisa membuat mee hoon kuehβ"Saya cuma bisa memakannya"βia sering membantu sebagai kasir di warung. Ibunya memberinya imbalan berupa waktu bermain game atau uang saku tambahan. "Saya suka membantu karena saya dapat uang. Saya bisa membelanjakannya," kata Royce terus terang.
Di balik popularitasnya, Royce tetap fokus pada pendidikannya. Ia akan menghadapi ujian PSLE (setara Ujian Nasional) tahun ini. Ketika ditanya apakah ia belajar keras selama liburan, ia awalnya mengiyakan, tetapi kemudian tertawa dan mengaku, "Oke, saya belajar hanya di sekolah." Ibunya mengingatkannya untuk jujur, menunjukkan dinamika keluarga yang hangat.
Menariknya, Royce tidak bercita-cita menjadi food influencer. "Saya ingin menjadi ilmuwan nuklir. Saya suka sains, melihat reaksi kimia. Saya ingin melindungi Singapura," ujarnya dengan semangat. Meski ambisinya terdengar muluk, ia juga menunjukkan minat pada seni dengan menggambar komik dan membeli perlengkapan seni dari hasil jerih payahnya. "Saya suka sains dan seni," katanya.
Fenomena Royce Soh mengingatkan pada kekuatan konten autentik di era digital. Tanpa strategi pemasaran yang rumit, seorang anak kecil berhasil menghidupkan kembali bisnis keluarga yang sempat terpuruk karena biaya operasional. Pertanyaannya, mampukah Greenview Cafe mempertahankan momentum ini setelah hiruk-pikuk viral mereda? Ataukah Royce akan segera kembali ke meja belajarnya, meninggalkan sorotan kamera untuk mengejar mimpinya sebagai ilmuwan nuklir?



