Gempa Ganda Venezuela Runtuhkan Bangunan, 188 Tewas dan Ratusan Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 SR mengguncang Venezuela dalam selang satu menit, menewaskan sedikitnya 188 orang dan melukai 1.500 lainnya.
- Wilayah pesisir La Guaira menjadi zona bencana terparah, dengan bandara utama rusak berat sehingga menghambat distribusi bantuan internasional.
- Pemerintah Venezuela mengerahkan dana rekonstruksi 200 juta dolar AS, sementara Amerika Serikat dan negara lain mengirim tim penyelamat meski ada kendala logistik.

Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela dalam rentang waktu hanya satu menit pada Rabu malam (25/6) telah merenggut sedikitnya 188 jiwa dan menyebabkan lebih dari 200 orang masih terperangkap di bawah reruntuhan. Guncangan berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo ini menjadi salah satu yang terkuat di Venezuela dalam seabad terakhir, bahkan getarannya terasa hingga ke Amazon Brasil.
Wilayah pesisir La Guaira, yang terletak di utara ibu kota Caracas, menjadi episentrum kerusakan paling parah. Bandara internasional utama negara itu rusak berat dan ditutup, mempersulit upaya evakuasi dan pengiriman bantuan. Tim penyelamat dikerahkan dari berbagai daerah menuju La Guaira, yang sebelumnya pernah dilanda bencana tanah longsor pada 1999 yang menewaskan ribuan orang.
Presiden Pelaksana Delcy Rodriguez, yang menjabat setelah penangkapan Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat pada awal tahun, menyatakan status darurat nasional. Dalam pidato resminya, Rodriguez mengumumkan pembentukan dana rekonstruksi sebesar 200 juta dolar AS untuk memperbaiki rumah sakit dan rumah warga yang hancur. Ia juga meminta perusahaan-perusahaan menyediakan alat berat untuk operasi penyelamatan.
Para ahli geofisika menjelaskan bahwa kombinasi dua gempa berturut-turut dengan kedalaman dangkal memperkuat efek destruktif. Marcos Ferreira, peneliti dari Geological Survey of Brazil, menganalogikannya seperti dua teriakan yang saling tumpang tindih sehingga getaran menjadi lebih kuat dan berbahaya. Venezuela memang terletak di antara lempeng Amerika Selatan dan Karibia, namun gempa besar relatif jarang terjadi dibandingkan kawasan Amerika Latin lainnya.
Di tengah kekacauan, warga Caracas menghabiskan malam di taman dan tempat terbuka karena takut bangunan runtuh. Banyak bangunan tampak seperti kerangka dengan perabotan menggantung di jendela. Sejumlah ibu kehilangan anak-anaknya, seperti Dayana Delgado yang putranya yang berusia 8 tahun masih hilang. Ia mempertanyakan janji pemerintah untuk mengerahkan alat berat, karena wargalah yang selama ini menggali reruntuhan dengan tangan kosong.
Bantuan internasional mulai mengalir dari berbagai negara, termasuk Qatar, Meksiko, dan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi pengiriman tim pencari dan penyelamat serta bantuan medis, meskipun penutupan bandara utama menjadi kendala logistik. Sementara itu, PBB mendesak pemerintah Venezuela untuk mencabut pembatasan media sosial agar informasi penyelamatan dapat tersebar luas. Menariknya, platform X yang sebelumnya diblokir sejak Agustus 2024 kembali dapat diakses setelah seruan tersebut.
Bencana ini menjadi ujian berat bagi kepemimpinan Delcy Rodriguez di tengah krisis ekonomi berkepanjangan dan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintahannya. Dengan ribuan orang masih hilang dan ancaman gempa susulan, pertanyaan besar kini mengemuka: seberapa cepat pemerintah dapat memulihkan infrastruktur vital dan menyelamatkan mereka yang masih terperangkap di bawah puing-puing?



