Air India Wajibkan Tes Narkoba untuk Semua Pilot Menyusul Insiden Ketinggian
Baca dalam 60 detik
- Maskapai India memberlakukan pemeriksaan zat terlarang bagi seluruh awak kokpit setelah dugaan pilot positif ganja.
- Langkah ini melampaui regulasi yang hanya mewajibkan tes acak 10%, sebagai respons atas insiden penurunan mendadak.
- Kebijakan ini berpotensi memengaruhi standar keselamatan penerbangan regional dan menjadi sorotan bagi maskapai Asia.

Air India langsung memberlakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh pilotnya untuk mendeteksi penggunaan zat terlarang, menyusul insiden penurunan ketinggian mendadak pada pekan lalu yang melukai belasan penumpang dan awak. Kebijakan ini berlaku efektif segera dan juga menjangkau pilot di anak usahanya, Air India Express, mulai Kamis.
Langkah ini diambil setelah sebuah penerbangan rute Phuket–Delhi kehilangan ketinggian sekitar 91 meter sesaat setelah lepas landas pada 4 Agustus. Laporan awal menyebutkan kapten penerbangan tersebut harus menjalani ulang tes zat terlarang dan dinyatakan positif ganja. Akibat kejadian itu, 17 penumpang dan kru mengalami luka-luka, sementara kedua pilot telah dinonaktifkan sementara hingga investigasi selesai.
Sebelumnya, regulasi keselamatan penerbangan India hanya mewajibkan pemeriksaan acak terhadap minimal 10% pilot. Keputusan Air India untuk menguji seluruh awak kokpit menandai eskalasi pengawasan internal yang jarang terjadi di industri penerbangan Asia. Dalam memo internal yang dilihat BBC, manajemen menyatakan inisiatif ini “melampaui persyaratan regulasi” sebagai wujud komitmen menjaga standar keselamatan dan profesionalisme tertinggi.
Kebijakan ini muncul di tengah tekanan besar yang dihadapi Air India setelah tragedi penerbangan Ahmedabad–London pada Juni 2025 yang menewaskan 241 orang di dalam pesawat dan 19 di darat. Hanya satu penumpang yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Meski investigasi masih berlangsung, reputasi maskapai pelat merah itu tengah diuji publik, dan langkah pengujian menyeluruh ini dibaca sebagai upaya memulihkan kepercayaan.
Pengujian tidak hanya menyasar narkotika, tetapi juga obat-obatan yang dilarang dalam regulasi penerbangan. Prosesnya dilakukan bersamaan dengan sesi pelatihan di akademi Air India, pusat briefing, dan kantor-kantor maskapai. Langkah ini juga terjadi di tengah pergantian kepemimpinan, dengan mantan bos Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, resmi menjabat sebagai CEO Air India pekan lalu.
Bagi pengamat penerbangan di Indonesia, kebijakan Air India ini menjadi sinyal bahwa pengawasan zat terlarang di kalangan pilot semakin menjadi perhatian serius di kawasan. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group memiliki regulasi serupa, namun implementasi tes menyeluruh jarang dipublikasikan. Jika kebijakan ini berhasil menurunkan risiko operasional, bukan tidak mungkin otoritas penerbangan sipil di negara-negara ASEAN turut meninjau ulang standar pengujian mereka.
Langkah Air India juga menyoroti tantangan besar dalam menjaga disiplin awak kabin di tengah tekanan operasional pascapandemi. Industri penerbangan global menghadapi kekurangan pilot, dan kebijakan ketat semacam ini bisa berdampak pada rekrutmen. Namun, keselamatan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah maskapai lain akan mengikuti jejak Air India, atau justru menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas India, Airbus, dan badan keselamatan udara Prancis. Keputusan ini juga akan menjadi ujian bagi kepemimpinan baru Tewolde Gebremariam dalam menyeimbangkan tuntutan keselamatan dengan efisiensi operasional.



