FIFA Izinkan Bendera Pelangi di Laga Iran vs Mesir, Benturan Nilai Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- FIFA memastikan bendera pelangi boleh dibawa ke stadion saat Iran vs Mesir di Piala Dunia 2026, meski kedua negara kriminalisasi LGBTQ.
- Laga itu bertepatan dengan Pride Weekend Seattle, memicu protes dari federasi sepak bola Iran dan Mesir yang menganggapnya bertentangan dengan nilai agama.
- FIFA menegaskan acara kebanggaan bukan bagian resmi Piala Dunia, melainkan inisiatif lokal yang sudah berlangsung puluhan tahun.

FIFA secara resmi mengizinkan penggemar membawa bendera pelangi ke dalam stadion saat laga Iran versus Mesir di Piala Dunia 2026, sebuah keputusan yang mempertemukan perayaan inklusivitas dengan dua negara yang menerapkan hukuman berat bagi komunitas LGBTQ.
Pertandingan fase grup yang dijadwalkan pada Jumat pekan depan itu jatuh tepat di akhir pekan perayaan Pride di Seattle, tempat laga digelar. Jadwal ini baru diketahui setelah undian Piala Dunia pada Desember lalu mempertemukan dua negara mayoritas Muslim tersebut. Federasi Sepak Bola Mesir dan Iran langsung menyatakan keberatan, dengan alasan acara tersebut bertentangan dengan nilai budaya dan agama mereka.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 adalah ajang inklusif yang menyambut semua kalangan. "Pernyataan umum tentang hak asasi manusia, termasuk bendera pelangi dan bendera lain yang mewakili orientasi seksual dan identitas gender, diizinkan berdasarkan Kode Etik Stadion Piala Dunia 2026 dan boleh ditampilkan di dalam stadion," demikian bunyi pernyataan FIFA. Namun, FIFA juga membatasi ukuran bendera dan spanduk, serta melarang atribut yang dianggap politis.
Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menegaskan bahwa perayaan Pride bukan bagian dari Piala Dunia. "Saya harus menjelaskan bahwa tidak akan ada 'Pride Match' di Piala Dunia," ujarnya kepada majalah Die Weltwoche pada Januari lalu. "Akan ada pertandingan Piala Dunia di Seattle, dan pada hari yang sama, acara yang diselenggarakan oleh organisasi eksternal akan berlangsung di kota itu. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan pertandingan itu sendiri."
Panitia lokal Seattle tetap tak gentar. Hedda McLendon, perwakilan komite penyelenggara Piala Dunia Seattle, mengatakan bahwa perayaan Pride sudah menjadi agenda tetap kota itu selama puluhan tahun. "Perayaan Pride... sudah berlangsung di akhir pekan ini selama lebih dari 50 tahun. Acara ini akan tetap berlangsung di akhir pekan ini, dan akan terus berlangsung lama setelah Piala Dunia usai," katanya kepada Reuters.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan kompleksitas penyelenggaraan event global di tengah perbedaan nilai. Meski tidak terlibat langsung, isu serupa bisa muncul jika Indonesia menjadi tuan rumah turnamen internasional di masa depan. Regulasi di Indonesia yang juga membatasi ekspresi LGBTQ berpotensi berbenturan dengan standar inklusivitas FIFA. Keputusan FIFA kali ini bisa menjadi preseden bagi tuan rumah lain yang memiliki pandangan konservatif.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana FIFA mampu menjaga keseimbangan antara prinsip inklusivitas dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal. Akankah kebijakan ini memicu boikot atau justru memperkuat tuntutan perubahan di negara-negara yang masih kriminalisasi LGBTQ?



