Belanda Waspadai Tunisia yang Terluka: Laga Pamungkas Bukan Sekadar Formalitas
Baca dalam 60 detik
- Belanda bersiap menghadapi Tunisia yang telah berganti pelatih dan tersingkir, namun diyakini akan tampil habis-habisan di laga terakhir Grup F Piala Dunia.
- Kemenangan telak Belanda atas Swedia (5-1) meningkatkan kepercayaan diri tim, terutama kedalaman lini serang yang ditopang kontribusi Denzel Dumfries.
- Laga ini menjadi ujian mental bagi Belanda untuk menjaga momentum sebelum fase gugur, sementara Tunisia ingin mengakhiri turnamen dengan martabat.

Bek Belanda, Denzel Dumfries, memperingatkan rekan-rekannya untuk tidak meremehkan Tunisia meski tim Afrika Utara itu sudah dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026. Menjelang laga terakhir Grup F di Kansas City, Kamis (27/6) waktu setempat, Dumfries menilai Tunisia justru berpotensi tampil lebih berbahaya karena tidak lagi terbebani tekanan.
Tunisia menjalani turnamen yang berat. Dua kekalahan telak—5-1 dari Swedia dan 4-0 dari Jepang—memaksa federasi sepak bola mereka mengambil langkah drastis: memecat pelatih Sabri Lamouchi setelah laga pembuka dan menunjuk Herve Renard sebagai pengganti. Meski perubahan itu belum membuahkan hasil, Renard menegaskan timnya akan tetap bermain dengan harga diri. "Kami di Piala Dunia. Meski tersingkir, kami masih punya satu pertandingan untuk dimainkan," ujarnya.
Belanda sendiri datang dengan modal percaya diri setelah menghancurkan Swedia 5-1, menyusul hasil imbang 2-2 melawan Jepang. Kemenangan tersebut mengangkat moral skuad asuhan Ronald Koeman, terutama lini depan yang menunjukkan ketajaman. Dumfries, yang memberikan dua assist dalam laga itu—masing-masing untuk Brian Brobbey dan Cody Gakpo—mengakui kedalaman serangan menjadi senjata utama. "Kami punya banyak pemain berkualitas di depan yang mampu mencetak gol. Ini pertanda baik dan memberi kepercayaan diri," kata pemain Inter Milan itu.
Namun, Dumfries menekankan bahwa tidak ada lawan yang mudah di Piala Dunia. "Setiap pertandingan berat. Semua bermain dengan kebanggaan membela negara. Saya yakin Tunisia akan tampil penuh energi, dan kami harus menunjukkan hal yang sama," imbuhnya. Sikap ini penting mengingat Belanda belum aman di puncak klasemen; Jepang yang juga mengoleksi 4 poin akan menghadapi Swedia yang sudah tersingkir.
Bagi Indonesia, laga ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi mental. Timnas Indonesia, yang tengah mempersiapkan diri untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026, sering kali menghadapi situasi serupa ketika menghadapi tim yang sudah tidak punya beban. Pengalaman Belanda menunjukkan bahwa meremehkan lawan yang 'mati' justru bisa menjadi bumerang. Selain itu, performa apik Dumfries sebagai bek sayap yang produktif bisa menjadi referensi bagi pemain sayap Indonesia untuk lebih agresif dalam membantu serangan.
Renard, yang dikenal sebagai pelatih krisis setelah sukses membawa Zambia dan Pantai Gading juara Piala Afrika, dipastikan akan mencoba mengakhiri turnamen dengan hasil positif. "Kami ingin meninggalkan kesan terakhir yang baik," katanya. Di sisi lain, Belanda ingin menjaga momentum sebelum melangkah ke babak 16 besar. Pertanyaannya, akankah Tunisia mampu memberikan kejutan atau Belanda akan melaju mulus?



