Mantan Striker Atletico Bogdanovic Minta Maaf Usai Komentar Rasis di Siaran Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Rade Bogdanovic, mantan striker Werder Bremen, menyampaikan permintaan maaf setelah melontarkan pernyataan bernada rasis terhadap pemain kulit hitam saat menjadi komentator Piala Dunia di televisi Serbia.
- Dalam siaran langsung RTS, Bogdanovic meragukan konsentrasi dan stamina pemain kulit hitam, memicu kecaman luas di media sosial dan respons resmi dari penyiar.
- Insiden ini menyoroti masih adanya stereotip rasial di sepak bola global, sekaligus menjadi pengingat bagi industri olahraga Indonesia untuk terus memperkuat edukasi anti-diskriminasi.

Mantan penyerang Atletico Madrid dan Werder Bremen, Rade Bogdanovic, secara resmi meminta maaf setelah pernyataan bernada rasis yang ia lontarkan saat menjadi komentator Piala Dunia di televisi Serbia menuai kecaman publik. Insiden itu terjadi ketika ia membahas kartu merah yang diterima bek Belgia, Nathan Ngoy, dalam laga tanpa gol melawan Iran di Grup G.
Bogdanovic, yang kini berusia 56 tahun dan sempat membela tim nasional Yugoslavia pada 1997, menyebut bahwa pemain kulit hitam cenderung kehilangan konsentrasi setelah 60 hingga 80 menit pertandingan. “Saya selalu mengatakan—dan saya benar-benar bukan rasis—tetapi pemain kulit hitam kurang memiliki konsentrasi untuk bertahan lebih dari 60 hingga 80 menit,” ujarnya dalam siaran langsung RTS, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan itu langsung memicu gelombang kritik di media sosial. Pembawa acara yang mendampinginya sempat meluruskan, namun Bogdanovic justru mengulangi pendapatnya dengan menyebut “mayoritas dari mereka kurang konsentrasi.” Tak berselang lama, RTS selaku penyiar resmi Piala Dunia di Serbia mengeluarkan permintaan maaf resmi, menegaskan bahwa Bogdanovic bukan kary tetap perusahaan, melainkan “komentator ahli” yang dipekerjakan untuk turnamen musim panas ini.
Dalam pernyataan terpisah, Bogdanovic mengaku menyesali komentarnya. “Saya dengan tulus meminta maaf atas pernyataan saya mengenai pemain sepak bola kulit hitam,” katanya. Namun, permintaan maaf itu tidak mengubah fakta bahwa ia kembali tampil di studio RTS pada hari berikutnya untuk membahas kemenangan Argentina atas Austria 2-0. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana RTS menindaklanjuti insiden tersebut secara internal.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa isu rasisme masih menghantui sepak bola global, bahkan di level komentator yang seharusnya menjadi panutan. Di dalam negeri, meskipun jarang terungkap ke permukaan, stereotip berbasis warna kulit atau etnis terkadang masih muncul dalam wacana sepak bola. Liga Indonesia, yang kian beragam dengan pemain asing dari berbagai benua, perlu menjadikan insiden ini sebagai momentum untuk memperkuat kode etik dan edukasi anti-diskriminasi bagi semua pihak yang terlibat, termasuk komentator dan analis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah RTS akan mengambil langkah lebih tegas, seperti menghentikan kerja sama dengan Bogdanovic, atau membiarkan kontroversi ini mereda begitu saja. Di tengah sorotan global terhadap Piala Dunia, respons penyiar Serbia akan menjadi barometer komitmen mereka dalam memberantas diskriminasi rasial di dunia olahraga.



