Tragedi di Tacloban: Dua Siswa Tembak Mati Tiga Kawan, Teror di Sekolah Guncang Filipina
Baca dalam 60 detik
- Dua siswa berusia 14 dan 15 tahun menembak mati tiga teman dan melukai tujuh lainnya di San Jose National High School, Filipina.
- Pelaku mengaku menjadi korban perundungan; satu senjata diperoleh dari bibi yang seorang polisi.
- Insiden ini memicu perintah presiden untuk meningkatkan keamanan sekolah, namun pelaku termuda kebal hukum karena usia di bawah 15 tahun.

Dua siswa bersenjata api menyerbu San Jose National High School di Tacloban, Filipina tengah, Senin pagi, menewaskan tiga pelajar dan melukai tujuh lainnya. Peristiwa yang jarang terjadi di negara dengan tingkat kepemilikan senjata tinggi ini langsung mengguncang publik dan memicu respons cepat dari Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Kepala Kepolisian Regional Brigadir Jenderal Jason Capoy mengonfirmasi bahwa pelaku, masing-masing berusia 14 dan 15 tahun, adalah siswa di sekolah yang sama. Keduanya ditangkap tak lama setelah kejadian. Dalam pemeriksaan awal, mereka mengaku menjadi sasaran perundungan di sekolah, meski Capoy tidak merinci lebih lanjut. Tidak ada catatan kriminal sebelumnya pada kedua remaja tersebut.
Menurut Capoy, satu pelaku menggunakan pistol 9 mm yang diambil dari bibinya yang seorang polisi—kini turut diperiksa—sementara yang lain membawa revolver kaliber 38. Senjata berhasil dibawa masuk karena hanya satu petugas keamanan yang berjaga di beberapa pintu masuk dan keluar sekolah. "Para pelaku menerobos dua ruang kelas; setelah penembakan di ruang pertama, para siswa berhamburan dan pelaku mengejar korban ke ruang lain," ujar Capoy kepada wartawan.
Korban tewas dan luka mayoritas adalah siswi. Polisi menemukan setidaknya 40 selongsong peluru di lokasi kejadian. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan siswa bersembunyi di bawah meja sambil menjerit dan menangis histeris saat tembakan terdengar di luar. Beberapa di antaranya menghubungi ibu mereka. Rekaman lain menunjukkan kerumunan siswa ketakutan berlarian keluar kampus, saling berpelukan.
Presiden Marcos Jr. memerintahkan investigasi menyeluruh dan meminta aparat meningkatkan keamanan di sekolah, tempat kerja, dan area publik. Juru Bicara Kepresidenan Claire Castro menyampaikan, "Presiden sangat sedih. Siapa pun, terutama orang tua korban, pasti merasa sedih dan ketakutan."
Setelah penyelidikan, kedua tersangka akan diserahkan kepada petugas kesejahteraan sosial karena status mereka sebagai anak di bawah umur. Pelaku berusia 14 tahun kebal dari tuntutan pidana berdasarkan undang-undang Filipina tahun 2006 yang menetapkan batas minimal usia pertanggungjawaban pidana 15 tahun—kecuali jika terbukti sadar penuh atas tindakannya. Aturan ini kerap menuai perdebatan di tengah meningkatnya kekerasan remaja.
Penembakan di sekolah tergolong langka di Filipina, meskipun kejahatan bersenjata api marak akibat maraknya senjata ilegal. Pada 2022, seorang pria bersenjata api menyerbu universitas di Manila menjelang wisuda, menewaskan tiga orang termasuk mantan wali kota yang menjadi sasaran dendam. Insiden terbaru ini kembali menyoroti celah keamanan di institusi pendidikan dan efektivitas undang-undang senjata serta perlindungan anak.
Polisi nasional mengimbau masyarakat tetap tenang dan melaporkan informasi yang dapat membantu penyelidikan. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah perundungan di sekolah cukup menjadi alasan untuk aksi brutal semacam ini, ataukah sistem pengawasan dan penegakan hukum yang perlu diperbaiki agar tragedi serupa tak terulang?



