Bad Bunny hingga Bizet: Rahasia Ilmiah di Balik Ritme yang 'Nempel' di Kepala
Baca dalam 60 detik
- Pola ritme 'tresillo' dengan susunan 3-3-2 menjadi fondasi daya tarik musik Bad Bunny dan banyak genre global.
- Konsep 'maximal evenness' menjelaskan mengapa ritme sederhana namun tidak sempurna ini mudah diingat otak manusia.
- Temuan ini membuka peluang bagi musisi Indonesia untuk meramu ritme tradisional Nusantara ke dalam formula yang terbukti secara kognitif.

Bad Bunny, megabintang reggaeton asal Puerto Riko yang akan memeriahkan pertunjukan paruh waktu Super Bowl 2026, tidak hanya mengandalkan penampilan panggung yang karismatik atau aktivisme sosialnya. Daya tarik utamanya justru terletak pada pola ritme yang ia gunakan—sebuah formula matematis yang ternyata sudah dipakai sejak era opera abad ke-19.
Pola tersebut dikenal sebagai tresillo, susunan ketukan 3-3-2 dalam delapan birama. Menurut analisis para peneliti musik, ritme ini termasuk dalam kategori maximally even, di mana elemen-elemen ketukan tersebar semaksimal mungkin dalam satu unit waktu. Hasilnya adalah irama yang terasa sederhana namun tidak membosankan, mudah diingat, dan secara naluriah mengundang gerakan tubuh.
Menariknya, tresillo bukanlah penemuan baru. Georges Bizet tanpa sengaja mempopulerkannya dalam opera Carmen (1875) melalui aria Habanera, yang ternyata bukan lagu rakyat melainkan gubahan komposer Spanyol Sebastián Yradier. Dari Kuba abad ke-18 yang merupakan perpaduan tari Inggris, Prancis, Spanyol, dan Afrika, ritme ini menyebar ke tango, jazz, bossa nova, hingga reggaeton modern.
Penjelasan ilmiah di balik daya rekat ritme ini terletak pada cara otak manusia memproses waktu. Penelitian awal tentang persepsi ritme menemukan bahwa partisipan lebih akurat mengingat dan mereproduksi pola ketika interval antar ketukan memiliki rasio sederhana, seperti 2:1 atau 1:1. Pola yang lebih kompleks cenderung disederhanakan oleh otak mendekati rasio tersebut. Studi terbaru mengonfirmasi adanya rhythmic bias ini di berbagai budaya, meski rasio ideal yang dipilih bisa berbeda.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka perspektif baru dalam pengembangan musik populer. Kekayaan ritme tradisional Nusantara—seperti irama kendang Sunda, gamelan Jawa, atau tifa Papua—sarat dengan pola maximally even yang belum banyak dieksplorasi secara ilmiah. Produser musik lokal dapat meramu elemen tradisional ke dalam formula yang terbukti secara kognitif, menciptakan lagu yang tidak hanya enak didengar tetapi juga mudah diingat pasar global.
"Catchy rhythms like the tresillo are examples of how our musical perception and preference negotiate between simplicity and complexity, between predictability and unpredictability," tulis para peneliti dalam artikel yang dimuat The Conversation.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi apakah ritme tradisional bisa bersaing di panggung global, melainkan bagaimana para musisi dan peneliti Indonesia dapat mengidentifikasi, memodifikasi, dan mematenkan pola-pola ritmis Nusantara agar setara dengan tresillo dalam daya pikatnya. Kolaborasi antara etnomusikolog, psikolog kognitif, dan produser musik menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.



