Skandal Popok Beracun di China: Formamide Picu Reaksi Kulit, Otoritas Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas China menyelidiki dugaan kandungan formamide pada popok merek Huggies, Babycare, dan Bibabebe setelah laporan media memicu kekhawatiran orangtua.
- Ketiga produsen membantah temuan tersebut dan mengklaim hasil uji ulang pihak ketiga negatif, sementara Huggies mengambil langkah hukum.
- Kasus ini mengingatkan pada skandal susu formula 2008 dan berpotensi memicu pengawasan lebih ketat terhadap produk bayi di Indonesia.

Otoritas pengawas pasar China (State Administration for Market Regulation) mengumumkan penyelidikan bersama otoritas kesehatan nasional menyusul laporan media lokal yang mendeteksi kandungan formamide—zat beracun pemicu iritasi kulit dan pusing—pada popok bayi merek Huggies, Babycare, dan Bibabebe. Langkah ini diambil di tengah sensitivitas tinggi masyarakat China terhadap keamanan produk anak, yang masih membekas sejak tragedi susu formula tercemar melamin pada 2008.
Laporan yang dimuat Economic Information Daily pekan lalu menyebutkan bahwa sampel popok dari tiga merek tersebut positif mengandung formamide, senyawa yang lazim digunakan dalam proses produksi namun dilarang pada produk kontak langsung dengan kulit bayi. Temuan ini segera memicu gelombang kekhawatiran di kalangan orangtua, terutama karena paparan formamide dapat menyebabkan dermatitis kontak dan gangguan saraf ringan.
Menanggapi laporan itu, ketiga produsen—Huggies (milik Kimberly-Clark), Babycare, dan Bibabebe—mengeluarkan pernyataan terpisah pada akhir pekan lalu. Mereka mengklaim bahwa uji ulang yang dilakukan oleh laboratorium pihak ketiga independen tidak menemukan jejak formamide dalam produk mereka. Huggies bahkan menyatakan akan menempuh jalur hukum terhadap apa yang disebutnya sebagai "informasi palsu, menyesatkan, dan berniat jahat yang merusak merek."
Meski demikian, otoritas China belum memberikan batas waktu penyelesaian investigasi. "Informasi terkait akan diumumkan tepat waktu," demikian pernyataan resmi otoritas, tanpa merinci kapan hasil akhir akan dipublikasikan. Ketidakjelasan ini menambah kecemasan publik, terutama karena belum ada konfirmasi apakah produk yang dituding mengandung formamide juga diedarkan di pasar luar negeri.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan produk impor. Sebagian besar popok bayi yang beredar di Indonesia berasal dari China atau diproduksi oleh perusahaan multinasional yang juga beroperasi di sana. Meskipun belum ada laporan produk serupa di dalam negeri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meningkatkan pengujian acak terhadap kandungan bahan berbahaya pada produk bayi impor. Konsumen Indonesia juga disarankan untuk lebih selektif dan memantau perkembangan investigasi ini.
Para analis menilai bahwa respons cepat Huggies—dengan mengambil langkah hukum—menunjukkan betapa seriusnya dampak reputasi yang bisa ditimbulkan. Di era media sosial, satu laporan negatif dapat memicu boikot massal, seperti yang pernah terjadi pada produk susu formula China pasca-2008. "Produsen kini berada dalam posisi defensif, dan kepercayaan konsumen adalah aset yang paling mahal untuk dipulihkan," ujar seorang pengamat industri barang konsumen di Shanghai.
Ke depan, kasus ini berpotensi mendorong revisi standar keamanan produk bayi di China dan negara-negara tetangga. Pertanyaannya, akankah otoritas Indonesia turut memperketat regulasi impor popok bayi, atau menunggu hingga kasus serupa terjadi di dalam negeri?



