Pertarungan Panas di London: Hrgovic Tuduh Itauma Dapat Jalan Mulus, Siapa yang Lebih Layak?
Baca dalam 60 detik
- Petinju kelas berat Filip Hrgovic melontarkan kritik tajam terhadap Moses Itauma, menuduh lawannya mendapat kemudahan dalam karier tanpa perjuangan berarti.
- Pertarungan pada 29 Agustus di O2 Arena London menjadi ujian terberat bagi Itauma, yang belum terkalahkan dalam 14 pertarungan profesional.
- Kemenangan di laga ini bisa membuka jalan menuju perebutan gelar dunia, termasuk potensi duel melawan Daniel Dubois atau Oleksandr Usyk.

Ketegangan memuncak dalam konferensi pers menjelang duel kelas berat antara Moses Itauma dan Filip Hrgovic di London, saat petinju Kroasia itu melontarkan tuduhan pedas bahwa lawannya yang masih berusia 21 tahun mendapat segalanya dengan mudah tanpa pengorbanan berarti. Pertarungan yang akan digelar di O2 Arena pada 29 Agustus ini diprediksi menjadi ujian terberat bagi Itauma, yang selama ini dijagokan sebagai masa depan divisi kelas berat.
Hrgovic, yang meraih medali perunggu Olimpiade 2016, dengan lantang mempertanyakan dedikasi Itauma terhadap olahraga tinju. "Dia diberi segalanya di atas piring. Bandingkan jalannya dengan jalan saya dan petinju lain dari negara kecil. Saya bekerja sangat keras untuk mencapai posisi ini. Semua yang dia capai adalah pemberian," ujar Hrgovic dengan nada emosional. Petinju berusia 35 tahun itu menekankan perjuangannya sebagai amatir yang minim dukungan dan promosi, berbeda dengan Itauma yang sejak awal mendapat sorotan.
Itauma, yang mencatat rekor 14 kemenangan (12 KO), menanggapi kritik tersebut dengan tenang. "Apakah dia menganggap jalan saya mudah, itu tidak akan menguntungkannya. Dia hampir 14 tahun lebih tua dari saya dan kami masih di posisi yang sama. Dia tidak tahu apa-apa tentang saya untuk berkomentar seperti itu," balas Itauma. Petinju asal Chatham itu menegaskan bahwa posisinya saat ini bukanlah hadiah, melainkan hasil dari mengatasi berbagai tantangan.
Pertarungan ini menjadi ajang pembuktian bagi Itauma yang belum pernah menghadapi lawan sekelas Hrgovic. Sebelumnya, ia sukses mengalahkan Jermaine Franklin pada Maret lalu. Sementara Hrgovic, setelah kekalahan dari Dubois, bangkit dengan menghentikan Dave Allen pada ronde ketiga di bulan Mei. Menurut analis tinju, perbedaan pengalaman dan gaya bertarung menjadi faktor kunci. Hrgovic dikenal sebagai petinju dengan pukulan keras dan daya tahan, sementara Itauma mengandalkan kecepatan dan teknik.
Bagi penggemar tinju Indonesia, duel ini menarik karena menunjukkan dinamika persaingan di kelas berat yang kini didominasi petinju Eropa. Meski belum ada petinju Indonesia yang menembus level ini, pertarungan seperti ini menjadi tolok ukur kualitas tinju Asia yang masih tertinggal. Namun, dengan semakin terbukanya akses siaran langsung, antusiasme penonton Tanah Air terhadap tinju dunia terus meningkat.
Di luar ring, ketegangan antara kedua petinju sempat mereda saat mereka berjabat tangan dalam sesi face-off. Namun, Itauma dengan percaya diri menyatakan, "Begitu pukulan pertama mendarat, saya yakin dia akan menghormati saya." Hrgovic, di sisi lain, meragukan ketahanan Itauma karena belum pernah melihatnya terdesak atau jatuh. "Dia punya kecepatan dan keterampilan, tapi untuk menjadi petarung hebat, Anda harus memiliki kemauan keras, rahang, dan daya tahan," ujarnya.
Pertanyaan besarnya kini: apakah pengalaman dan kegigihan Hrgovic mampu menghentikan laju petinju muda yang dijagokan sebagai bintang masa depan? Atau justru Itauma yang akan membuktikan bahwa jalannya menuju puncak bukanlah jalan pintas, melainkan hasil kerja keras yang setara? Jawabannya akan terjawab pada 29 Agustus mendatang.



