Fury Umumkan Kolaborasi dengan Dana White, Duel Lawan Joshua Makin Dekat?
Baca dalam 60 detik
- Tyson Fury mengisyaratkan pengumuman besar bersama presiden UFC Dana White yang berpotensi terkait promosi pertarungan melawan Anthony Joshua.
- Zuffa Boxing, perusahaan baru bentukan White dengan dana Arab Saudi, mulai menggeser peta persaingan promotor tinju global.
- Fury dan Joshua sama-sama harus memenangkan pertarungan berikutnya sebelum duel super yang ditargetkan akhir 2026 terealisasi.

Tyson Fury, mantan juara dunia kelas berat dua kali, mengonfirmasi akan terlibat dalam sebuah pengumuman besar yang digagas oleh Zuffa Boxing dan presiden UFC, Dana White. Pernyataan ini disampaikan saat Fury menjadi tamu istimewa dalam acara UFC di Gedung Putih pada akhir pekan lalu, yang digelar dalam rangka peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan penyiar UFC Jon Anik, petinju asal Inggris berusia 37 tahun itu ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan White dalam promosi duel yang telah lama dinantikan melawan Anthony Joshua. Fury menjawab dengan nada optimistis, "Potensinya 100 persen, ya." Namun, ia enggan membeberkan detail lebih lanjut dan memilih menyerahkan urusan bicara kepada White.
Klaim White bahwa ia akan mempromosikan pertarungan Fury vs Joshua sebelumnya telah berulang kali dibantah oleh promotor Joshua, Eddie Hearn, dan promotor Fury, Frank Warren. Meski demikian, Fury tetap antusias. "Saya sangat bersemangat untuk pertarungan ini. Sudah lebih dari satu dekade dinanti. Untuk alasan apa pun, ini belum terjadi sebelumnya. Semoga segera terwujud," ujarnya.
Zuffa Boxing, yang didirikan oleh Dana White dengan dukungan dana dari Arab Saudi, mulai menjadi ancaman serius bagi promotor tinju mapan. Langkah terbesarnya sejauh ini adalah merekrut Conor Benn dari Matchroom milik Eddie Hearn pada Februari lalu. Jika berhasil mengamankan Fury, Zuffa akan mendapatkan tambahan paling bergengsi dalam daftar petinjunya.
Di sisi lain, langkah Zuffa tidak berjalan mulus tanpa kontroversi. Frank Warren, promotor Fury dari Queensberry, pada Februari lalu mengancam akan mengambil tindakan hukum terkait peluncuran Zuffa. Sementara itu, Dana White juga terlibat dalam sejumlah perselisihan dengan Eddie Hearn. White bahkan menyatakan keinginannya untuk mengubah Muhammad Ali Act, undang-undang AS tahun 2000 yang dirancang melindungi hak-hak petinju dan mencegah monopoli. Jika perubahan itu terjadi, White bisa mengakui sabuk Zuffa sebagai gelar juara dunia yang sah, tanpa harus bekerja sama dengan badan sanksi lainnya.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang besar untuk menyaksikan duel kelas berat paling dinanti dalam satu dekade terakhir. Pertarungan Fury vs Joshua tidak hanya akan menjadi tontonan global, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap promosi tinju dunia. Dengan masuknya Zuffa yang didukung modal Arab Saudi, persaingan promotor semakin ketat, yang bisa berdampak pada frekuensi dan kualitas pertarungan besar yang bisa dinikmati penonton Tanah Air.
Fury sendiri baru saja kembali dari pensiun dengan kemenangan atas Arslanbek Makhmudov pada April lalu. Ia mengaku masih memiliki satu pertarungan lagi pada Agustus sebelum laga melawan Joshua. Sementara itu, Joshua juga harus memenangkan pertarungannya melawan Kristian Prenga pada 25 Juli di Arab Saudi. Kedua petinju sama-sama tidak punya pilihan selain menang jika ingin duel super itu benar-benar terjadi pada akhir 2026.
Pertanyaannya, akankah Zuffa Boxing mampu merealisasikan apa yang selama satu dekade gagal diwujudkan oleh promotor konvensional? Atau justru konflik kepentingan antara White, Hearn, dan Warren akan kembali menggagalkan pertarungan yang dinanti jutaan penggemar tinju di seluruh dunia?



