Film Teochew Laris Manis, Singapura Longgarkan Aturan Pemutaran Bahasa Daerah
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura akan lebih fleksibel menyetujui pemutaran film berbahasa daerah setelah film Dear You dalam bahasa Teochew ludes terjual.
- Distributor Clover Films mengajukan izin hingga 50 pemutaran tambahan, merespons antusiasme penonton yang mencapai 4.800 tiket habis dalam satu jam.
- Kebijakan ini memicu perdebatan tentang keseimbangan antara promosi Mandarin sebagai bahasa resmi dan pelestarian dialek sebagai warisan budaya.

Pemerintah Singapura melalui Kementerian Digital dan Informasi (MDDI) mengumumkan akan menerapkan pendekatan yang lebih longgar dalam menyetujui pemutaran film berbahasa daerah di bioskop. Langkah ini diambil setelah film Dear You yang menggunakan bahasa Teochew menuai sambutan luar biasa, dengan seluruh tiket pemutaran perdananya habis terjual dalam hitungan jam.
Film garapan sutradara Lan Hongchun ini bercerita tentang dua garis waktu yang saling terkait: seorang cucu mencari kakeknya yang hilang di Thailand, dan seorang pria yang meninggalkan China menuju Asia Tenggara pada 1940-an. Sejak tayang di China, film tersebut meraup lebih dari 1,7 miliar yuan atau sekitar 250 juta dolar AS, menjadikannya salah satu film terlaris tahun ini. Di Singapura, pemutaran perdana dalam bahasa Teochew di Golden Village VivoCity langsung penuh, mendorong penambahan delapan jadwal baru yang juga ludes dalam waktu satu jam setelah tiket dijual.
Distributor Clover Films, yang dipimpin oleh Lim Teck, telah mengajukan permohonan ketiga kepada Otoritas Pengembangan Media dan Informasi (IMDA) untuk menggelar hingga 50 pemutaran tambahan dalam bahasa Teochew. "Sejak awal, niat kami adalah membuat film ini tersedia seluas mungkin di Singapura," ujar Lim. Ia berharap pemutaran tidak hanya terbatas di VivoCity, tetapi juga menjangkau bioskop di kawasan suburban.
MDDI menegaskan bahwa kebijakan jangka panjang pemerintah tetap mempromosikan Mandarin sebagai salah satu dari empat bahasa resmi. Namun, mereka mengakui bahwa dialek merupakan bagian penting dari warisan budaya Singapura. "Kami mendengar seruan agar film berbahasa daerah bisa lebih bebas diputar. IMDA akan mengambil pendekatan yang lebih fleksibel," demikian pernyataan resmi kementerian. Sebelumnya, IMDA hanya mengizinkan 10 pemutaran Teochew, lalu menambah delapan setelah melihat antusiasme publik.
Kebijakan ini memicu diskusi lebih luas tentang identitas budaya dan penggunaan dialek di kalangan masyarakat Tionghoa Singapura. MDDI menyambut baik perdebatan tersebut dan berterima kasih atas masukan publik. "Dialek membawa tradisi, cerita, dan cara berekspresi yang kaya. Banyak warga Singapura, termasuk generasi muda, mulai tertarik mempelajari dialek sebagai bagian dari warisan mereka," tambah kementerian. Pemerintah juga mendukung upaya kelompok komunitas, perkumpulan klan, dan praktisi budaya untuk melestarikan dialek.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat kekayaan bahasa daerah yang juga diakui sebagai warisan budaya. Meski kebijakan bahasa nasional di Indonesia berbedaโdengan Bahasa Indonesia sebagai pemersatuโminat terhadap film berbahasa daerah seperti Jawa, Sunda, atau Batak juga meningkat. Kesuksesan Dear You menunjukkan bahwa pasar film berbahasa daerah memiliki potensi ekonomi dan kultural yang besar, asalkan didukung regulasi yang adaptif.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana Singapura akan melonggarkan aturan tanpa mengorbankan posisi Mandarin sebagai bahasa pemersatu. MDDI berjanji akan terus meninjau pendekatan mereka dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan. Sementara itu, Clover Films berharap kerja sama dengan IMDA tidak berhenti pada Dear You, melainkan menjadi preseden bagi film-film berbahasa daerah lainnya.



