Ghost of Yōtei: Ketika Game Sucker Punch Menggerakkan Pariwisata Jepang
Baca dalam 60 detik
- Ghost of Yōtei terjual 5 juta kopi sejak Oktober 2025, memicu inisiatif pariwisata di tujuh kota di wilayah Gunung Yōtei.
- Niseko menjadi contoh dengan menjual merchandise resmi game dan merencanakan tur ke lokasi yang muncul dalam game.
- Fenomena ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisata berbasis game, mengingat potensi serupa di daerah seperti Toraja atau Danau Toba.

Lima juta kopi telah terjual sejak perilisan Ghost of Yōtei pada Oktober 2025, menjadikannya salah satu game paling sukses tahun ini. Namun dampaknya tidak hanya terasa di industri hiburan; di Jepang, game besutan Sucker Punch ini telah menggerakkan roda ekonomi lokal di kawasan Gunung Yōtei. Tujuh kota dan desa di prefektur Hokkaido kini berlomba memanfaatkan popularitas game untuk menarik wisatawan.
Menurut laporan Nikkei, inisiatif ini mencakup penjualan merchandise resmi, tur wisata ke lokasi yang diangkat dalam game, hingga kerja sama dengan bisnis setempat. Niseko, kota yang dikenal sebagai destinasi ski, menjadi yang terdepan dengan menandatangani perjanjian untuk menjual suvenir bertema Ghost of Yōtei, seperti pin dan magnet. Pemerintah setempat juga tengah merancang paket wisata yang membawa pengunjung menyusuri pemandangan yang sama seperti yang dijelajahi protagonis game.
Fenomena ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Ghost of Tsushima—game pendahulunya—berhasil mendongkrak kunjungan ke Pulau Tsushima di Jepang. Kini, giliran Hokkaido yang mendapat sorotan. “Kami berharap orang-orang datang menikmati pemandangan musim semi, panas, dan gugur berkat game ini, dan itu akan mendorong mereka untuk mengunjungi kota kami,” ujar seorang perwakilan Niseko.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang menarik. Dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah, Indonesia bisa mengadopsi strategi serupa melalui kolaborasi dengan pengembang game lokal maupun internasional. Bayangkan jika game seperti A Space for the Unbound atau Coffee Talk mengangkat destinasi seperti Toraja, Danau Toba, atau Raja Ampat—potensi ekonominya bisa sangat besar. Pemerintah daerah dan Kementerian Pariwisata bisa mulai menjajaki kerja sama dengan industri game untuk menciptakan konten yang mempromosikan pariwisata sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah game bisa menjadi alat promosi pariwisata, melainkan seberapa cepat Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini. Apakah akan ada Nusa Penang versi digital, atau petualangan di Candi Borobudur yang bisa dimainkan jutaan orang? Jawabannya ada pada kemauan untuk berinovasi dan berkolaborasi lintas sektor.



