Gary Numan Akui Cara Mendekati Istri Kini Mungkin Melanggar Hukum
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Gary Numan mengakui bahwa cara ia mendekati istrinya yang merupakan penggemar setia di era 1990-an kemungkinan besar ilegal jika dilakukan saat ini.
- Ia menggunakan fan club untuk mendapatkan nomor telepon Gemma O'Neill setelah mengetahui ibunya meninggal, lalu menghubunginya untuk menawarkan dukungan.
- Numan yang didiagnosis Asperger sejak remaja mengaku istrinya membantunya memahami interaksi sosial, termasuk memberi isyarat saat ia bersikap tidak sesuai norma.

Gary Numan, vokalis legendaris yang dikenal lewat hit "Cars", mengakui bahwa cara ia merayu istrinya, Gemma O'Neill, tiga dekade lalu kemungkinan besar sudah melanggar aturan jika dilakukan di era sekarang. Dalam wawancara dengan The Times, pria 68 tahun itu secara blak-blakan menyebut metodenya memanfaatkan status sebagai idola untuk mendekati penggemar kini dianggap tidak etis, bahkan ilegal.
Gemma, yang 10 tahun lebih muda, adalah pengunjung tetap konser Numan pada 1990-an. Kedekatan mereka bermula saat Numan mengetahui ibu Gemma meninggal dunia. Ia lantas menggunakan jalur fan club pribadinya untuk mendapatkan nomor telepon sang penggemar. "Saya menelepon dan bilang, 'Halo, ini aku.' Dia langsung menutup telepon karena mengira itu lelucon kejam," kenang Numan.
Namun, Numan tak menyerah. Ia menelepon lagi dan Gemma memberinya kuis untuk membuktikan identitas. Setelah itu, Numan mengajaknya melakukan perjalanan darat ke sebuah wawancara radio untuk mengalihkan kesedihannya. Hubungan itu berlanjut hingga mereka menikah pada 1997 dan dikaruniai tiga anak perempuan: Raven (23), Persia (21), dan Echo (19). "Saya mengajaknya ke Little Chef karena saya orangnya rendah hati. Saya tidak melakukan hal-hal glamor seperti bintang pop kaya raya," ujarnya.
Di luar kisah asmaranya, Numan juga berbicara tentang diagnosis Asperger yang diterimanya sejak remaja. Ia mengaku baru benar-benar memahami kondisinya setelah Gemma membantunya menyadari pola perilaku autistik. "Dulu saya pikir semua orang aneh kecuali saya, karena reaksi mereka sering tak saya mengerti," katanya. Gemma kerap memberi kode, seperti tendangan di bawah meja atau cubitan di lengan, saat Numan bersikap terlalu "Asperger" di depan umum.
Numan juga mengaku mendapat pelajaran sosial dari keluarganya. "Saya baru tahu bahwa saat bertemu orang baru, saya sebaiknya menanyakan pekerjaan mereka karena itu menunjukkan ketertarikan. Beberapa bulan lalu saya bilang ke anak-anak, 'Sepertinya saya sudah tidak Asperger lagi.' Persia langsung menjawab, 'Kamu bercanda, ya?'"
Pelantun "Are 'Friends' Electric?" itu meyakini ada hubungan antara autisme dan kecintaannya pada teknologi. "Saya melihat kepribadian dalam mesin," ujarnya. Ia mencontohkan kebiasaannya saat menerbangkan pesawat: "Saya mengembangkan hubungan yang sangat dekat dengan pesawat. Kedengarannya aneh, tapi saya bicara padanya dan selalu mengucapkan terima kasih setelah mendarat."
Namun, hubungan dengan manusia justru lebih rumit. "Jika seseorang mengecewakan saya, orang itu lenyap dari hidup saya. Gemma bilang, 'Bagaimana kau bisa? Dia sudah berteman denganmu bertahun-tahun.' Tapi ya, mereka mengecewakan saya," tegas Numan.
Di Indonesia, praktik musisi mendekati penggemar melalui akses istimewa seperti fan club atau media sosial kerap menjadi perdebatan. Meski belum ada regulasi spesifik yang melarang, banyak pihak menilai relasi kuasa yang timpang antara selebritas dan penggemar berpotensi menimbulkan eksploitasi. Kasus Numan setidaknya membuka kembali diskusi tentang batasan etis dalam interaksi idola-penggemar di era digital.



