Dari Petisi Penolakan ke Panggung Piala Dunia: Kisah Noni Madueke Bersinar di Inggris
Baca dalam 60 detik
- Noni Madueke, yang sempat ditolak fans Arsenal lewat petisi, kini menjadi starter Inggris di Piala Dunia 2026 setelah musim gemilang.
- Penampilannya melawan Kroasia, termasuk memenangkan penalti untuk gol Harry Kane, menegaskan perannya sebagai pembeda di bawah asuhan Thomas Tuchel.
- Persaingan dengan Bukayo Saka di klub dan timnas justru memicu performa terbaik Madueke, dengan potensi duet di sayap yang diadaptasi dari strategi Arsenal.

Noni Madueke, pemain sayap Arsenal yang sempat menjadi kontroversi saat didatangkan dari Chelsea dengan mahar ยฃ50 juta, kini menjadi starter utama Inggris di Piala Dunia 2026. Dalam laga pembuka Grup L melawan Kroasia, Madueke tampil gemilang dengan memenangkan penalti yang dikonversi Harry Kane untuk membawa kemenangan 4-2. Perjalanan ini menjadi klimaks dari transformasi luar biasa sang pemain dalam waktu kurang dari setahun.
Musim panas lalu, petisi #NoToMadueke ramai di media sosial saat Arsenal mengumumkan transfernya. Namun, 12 bulan kemudian, Madueke tidak hanya menjadi juara Premier League setelah Arsenal merebut gelar pertama dalam 22 tahun, tetapi juga menjadi andalan Thomas Tuchel di sayap kanan. Pelatih asal Jerman itu memuji kemampuannya sebagai "pembeda" dan mengandalkan kecepatan serta dribel satu lawan satu untuk mendukung skema permainan yang dibangun di sekitar Harry Kane.
Madueke mencatatkan empat operan kepada Kane dalam laga melawan Kroasia, jumlah tertinggi bersama kiper Jordan Pickford. Ia juga memiliki lima sentuhan di kotak penalti lawan, satu dribel sukses, dan memenangkan penalti krusial. Penampilan energiknya bersama Anthony Gordon di sayap kiri menjadi salah satu titik terang bagi Inggris di pertandingan tersebut.
Kisah Madueke tidak lepas dari situasi unik di Arsenal dan timnas. Rekan setimnya, Bukayo Saka, yang biasanya menjadi pilihan utama di sayap kanan, sedang bergelut dengan cedera Achilles yang ia bawa sejak Maret. Saka baru diperkirakan tampil pada laga terakhir fase grup melawan Panama. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Madueke untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar pelapis.
Menariknya, persaingan di klub justru melahirkan solusi kreatif. Manajer Arsenal Mikel Arteta kerap memainkan Madueke di sayap kiri dan Saka sebagai gelandang serang. Duet ini sukses membawa Arsenal meraih gelar liga. Tuchel pun disebut-sebut bakal mengadopsi taktik serupa jika Inggris melaju ke fase gugur. Saka sendiri menyebut hubungannya dengan Madueke sebagai "unik" dan memanggilnya "saudara", menunjukkan bahwa kompetisi sehat tidak merusak chemistry tim.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Madueke menjadi contoh bagaimana tekanan publik dan skeptisisme awal bisa dijawab dengan kerja keras. Di tengah gencarnya pemberitaan tentang pemain diaspora Indonesia di Eropa, perjalanan Madueke mengingatkan bahwa konsistensi dan adaptasi taktik adalah kunci sukses di level tertinggi. Apakah Madueke akan mempertahankan tempatnya di starting XI saat Saka pulih? Ataukah Tuchel akan memainkan keduanya secara bersamaan seperti yang dilakukan Arteta? Jawabannya akan terungkap dalam laga-laga berikutnya.



