Presenter Hong Kong Lillian Sze Meninggal akibat Kanker Ovarium, Sempat Donasikan Tubuh untuk Riset
Baca dalam 60 detik
- Lillian Sze, mantan pembawa acara ViuTV yang menguasai empat bahasa, meninggal dunia akibat kanker ovarium kurang dari sebulan setelah mengumumkan diagnosisnya.
- Ia menghentikan kemoterapi karena kondisi fisik yang lemah dan sempat mendaftarkan diri untuk mendonasikan tubuhnya bagi penelitian medis.
- Kanker ovarium merupakan kanker keenam terbanyak pada wanita Hong Kong pada 2023, dengan 274 kematian pada 2024.

Lillian Sze, pembawa acara televisi Hong Kong yang dikenal fasih dalam empat bahasa dan kerap memimpin pertemuan penggemar bintang Korea Selatan, meninggal dunia akibat kanker ovarium pada Minggu (21/6), kurang dari sebulan setelah ia mengungkapkan diagnosisnya kepada publik.
Kabar duka ini diumumkan melalui akun media sosial resmi Sze. Unggahan tersebut menggambarkan Sze sebagai pribadi yang selalu positif dalam menghadapi hidup, termasuk saat berjuang melawan penyakit. “Bahkan di tengah sakit, ia terus menyemangati dirinya dengan optimisme, sambil menerima dukungan besar dari banyak pihak,” tulis pengelola akun, tanpa menyebutkan usia almarhumah. Publik diminta memberikan ruang bagi keluarga untuk mengurus pemakaman dan mengingat Sze sebagai sosok yang energik.
Pengumuman ini muncul hanya empat hari setelah Sze menyatakan akan menghentikan kemoterapi karena kondisi fisiknya yang melemah. Ia juga mengungkapkan telah mengajukan permohonan untuk mendonasikan tubuhnya bagi penelitian medis. “Saya berharap bisa membantu lebih banyak mahasiswa di masa depan, dan saya yakin kalian akan mendukung langkah saya ini,” tulisnya kala itu.
Sze, yang sebelumnya menjadi pembawa acara program kewirausahaan ViuTV Innovative Teen, dikenal karena kemampuannya memandu acara dalam bahasa Kanton, Mandarin, Inggris, dan Korea. Ia rutin memandu pertemuan penggemar artis Korea Selatan dan Thailand, termasuk acara untuk Lingling Kwong dan Orm Kornnaphat, bintang drama Thailand The Secret Of Us, awal tahun ini.
Pada akhir Mei, Sze mengumumkan bahwa ia didiagnosis menderita kanker ovarium. Tumor ovarium sebesar 10 cm yang ditemukan pada Oktober tahun lalu telah membesar menjadi 17 cm, kira-kira seukuran janin lima bulan. Ia menjalani operasi pada Februari setelah menyelesaikan tugas memandu acara terkait film lokal Back To The Past, yang meraup rekor HK$10,91 juta (sekitar Rp21 miliar) pada hari pembukaannya. Setelah operasi, ia baru mengetahui bahwa tumor tersebut telah menjadi ganas dan menyebar.
Operasi lanjutan dilakukan pada April untuk mengangkat rahimnya, dan ia diharapkan bisa kembali ke kehidupan normal setelah enam sesi kemoterapi. Namun, kondisinya ternyata lebih serius dari perkiraan. “Setelah operasi, saya tahu kondisinya lebih parah dari yang saya kira, dan bahkan untuk menyelamatkan hidup saya, saya sekarang harus menggunakan stoma,” ungkap Sze saat itu. Ia awalnya tidak berniat membicarakan penyakitnya secara terbuka karena ingin tetap bekerja selama menjalani perawatan, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan semuanya setelah harus menolak banyak tawaran pekerjaan.
Selama menjalani pengobatan, Sze sesekali membagikan kenangan perjalanannya ke Jepang dan Korea Selatan. Ia juga mendokumentasikan perjuangannya melalui tagar “Lillian’s diary on fighting cancer” di Threads, yang mendapat dukungan luas dari warganet. Unggahan yang mengumumkan kematiannya pun dibanjiri ucapan belasungkawa. Pembawa acara radio komersial Bonnie Wong Ching-yi, yang dikenal sebagai Ah Jeng, menulis, “Semoga kamu bahagia di surga. Beristirahatlah dengan tenang.” Aktris Judy Kwong Kit-ying mengaku merasa beruntung pernah mengenal Sze dan belajar dansa bersamanya. “Aku, seperti semua orang, akan mengingat senyummu dan kebahagiaan yang kamu bawa. Beristirahatlah dengan damai, Lillian tersayang,” tulis Kwong.
Kanker ovarium masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan wanita di Asia. Di Indonesia, data Globocan 2020 mencatat lebih dari 14.000 kasus baru kanker ovarium dengan angka kematian mencapai lebih dari 9.000 jiwa. Minimnya deteksi dini dan keterlambatan penanganan menjadi faktor utama tingginya fatalitas. Kisah Lillian Sze menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran akan gejala awal kanker ovarium, seperti perut kembung berkepanjangan, nyeri panggul, dan perubahan pola buang air kecil.
Ke depan, publik berharap semakin banyak riset dan edukasi yang dapat menekan angka kematian akibat kanker ovarium. Donasi tubuh Sze untuk penelitian medis diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan, terutama dalam memahami dan menangani penyakit yang merenggut nyawanya ini.



